“Ketika Sangkuni Terlahir
Kembali”
Sungguh ironis melihat keadaan
negeri ini sekarang. Ibarat zaman Jahilliah
yang terulang kembali, dimana moral dikantongi dan dusta disebar dimana-mana. Dari
yang salah dijadikan benar dan yang benar menadi korban sampai pemimpin yang
sudah melupakan amanah sebagai seorang pemimpin. Kebijakan “siapa yang berkuasa akan bahagia” menjadi motto utama para
penguasa di negeri ini. Kedustaan diantara mereka kian merajalela, namun dengan
entengnya mereka menggemborkan kesejahteraan, keamanan, keadilan bagi “seluruh” masyarakat negeri. Entah siapa
yang “bodoh” dalam hal ini. Kau (penguasa) atau aku (pekerja).
Kau bilang penanaman ideologi
yang benar berawal ketika masih kecil. Dari keluarga, lingkungan sampai
pemerintah mengedepankan penanaman ideologi harus “nasionalisme”. Ideologi dengan menjunjung tinggi rasa “nasionalisme”, mengedepankan prinsip
kemanusiaan, tidak menerima apapun dalam maksud menyuap, dan memberantas segala
bentuk kejahatan moral. Tapi, setelah aku mempunyai ideologi seperti itu, dan
itu sangat kuat terasa melekat sampai sum-sum tulangku. Dengan entengnya kau
anggap aku sebagai sebuah ancaman yang akan menggeser kekuasaanmu. Terus untuk
apa kau suruh aku menanamkan ideologi tapi kemudian kau beri aku ulat untuk
menggergoti ideologiku ??? kau yang “bodoh”
atau aku yang dengan lugunya dapat kau permainkan layaknya lakon dalam
pewayangan.
Mirip seperti sang “Sengkuni”
yang licik dan mau menang sendiri meski dengan cara apapun, kau permaikan aku
seperti kau mempermaikan dadu layaknya “Sengkuni” dalam permainan “judi” dadu. Kau
belai aku, kau beri aku kenyamanan, tapi dibelakang itu kau punya niat busuk
untuk memperdayaku, agar kau menang dalam pertarungan”judi”mu itu. Dalam judimu
itu aku hanya bisa mengikuti alur permainanmu. Begitu patuhnya aku, tanpa
mengeluh apapun kepadamu, meski kau selalu menindas, mempermainkan aku, selalu
membuatku tersakit-sakit. Ketika ku mulai berontak akan ketimpangan yang aku
rasakan, kau memberiku pecutan yang membekas sampai akar tulangku. Pecutan yang
akan membungkam mulutku sampai seribu bahasa. Sampai aku tak dapat mengungkap
apa yang aku rasakan.
Ketika
drama berada diatas tahta
Ketika
kau bertindak semena-mena
Dengan
mengatasnamakan kekuasaan
Kau
memecut aku sampai tak berdaya
Dengan
uang kau membungkam aku sampai seribu bahasa
Kau
tak punya hati atau bagaimana ?
Tanpa
ada kuasa aku memberontak
Karena
selalu kau ancam
Dengan
kuasamu aku akan sirna
lewat
secarik kata ini aku ungkapkan
Untuk
mengungkap sesaknya rasa didada
Sakit
yang terus ku tahan
Sampai
dada ini tak lagi dapat menampung semuanya
Ingin
ku berteriak disamping telinga cureg yang kau punya
“AKU
INGIN BEBAS, DARI SEGALA POLAH TINGKAH MU !!!!”
Kenapa aku bisa sebodoh ini,
sampai “kau” yang “busuk” seperti itu dapat mempengaruhi aku. Kau yang terlahir
bagai “Sengkuni” dijaman ini. Kau yang membawa “kebodohan”, dan menjauhkan
semua dari rasa tentram dan aman. Aku berharap akan ada “Bima” yang dapat
membunuhmu. Yang dapat menghapus dosa yang tlah kau tabur dimuka bumi ini. Dengan
membinasakan semua anak turunmu, agar tidak terulang kembali sengkuni-sengkuni
yang lain. Tapi apakah itu akan menhapus sengkuni dari muka bumi ini ? meski
tak dapat dipungkiri bahwa akan ada sengkuni lain yang muncul bukan dari anak
turunmu, aku berharap sengkuni itu akan binasa sebelum mereka berkuasa.
-Ga-