Juli 2016

Jumat, 15 Juli 2016

Rindu


Guntur menggelegar bak meriam perang berhamburan,
Kilat menyambar cahaya terang silaukan mata,
Hati kesah menanti adinda nan jauh sana,
Tapi cinta daku yang takkan padan oleh hujan yang mendera,
Badai topan pun takkan mampu menghalau rasa rindu daku pada adinda,
Daku berharap pada hujan di malam ini yang deras,
Semoga cinta adinda takkan luntur di makan masa,    
-Ga-

Harapan yang sirna


Jalan yang dulu tertata rapi,
Kini sudah tak ada wajah asli,
Sekian lama daku pergi merantau,
Demi adindaku yang slalu menunggu,
Tapi, . . .
Semua terasa pedih,
Pahit mataku tak sesakit hati ini,
Adinda kini tlah dipinang laki-laki lain,
Daku dengar dia anak saudagar dan priyai,
Tega, . . .
Bagai raga yang tertembak beribu peluru,
Tubuh daku dingin dan kaku,
Mendengar berita yang mengejutkan itu,
Apa salah daku pada engkau adindaku ?
Tega sekali engkau menghianati daku yang tulus,
Tak kira berapa tetes air mata yang jatuh mengalir,
Hanya sendu dalam tangis,
Terasa hati yang teriris,
-Ga-