Harapan yang sirna

Jumat, 15 Juli 2016

Harapan yang sirna


Jalan yang dulu tertata rapi,
Kini sudah tak ada wajah asli,
Sekian lama daku pergi merantau,
Demi adindaku yang slalu menunggu,
Tapi, . . .
Semua terasa pedih,
Pahit mataku tak sesakit hati ini,
Adinda kini tlah dipinang laki-laki lain,
Daku dengar dia anak saudagar dan priyai,
Tega, . . .
Bagai raga yang tertembak beribu peluru,
Tubuh daku dingin dan kaku,
Mendengar berita yang mengejutkan itu,
Apa salah daku pada engkau adindaku ?
Tega sekali engkau menghianati daku yang tulus,
Tak kira berapa tetes air mata yang jatuh mengalir,
Hanya sendu dalam tangis,
Terasa hati yang teriris,
-Ga-

0 komentar :

Posting Komentar