CANTIK, HANGAT, PINTAR
Sepenggal kisah
dari “Tania Pramayuani”
By : Ari Gallih
“Kecerdasan
adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang
bernilai dalam suatu budaya” – Howard Gardner
roses
memang tidak pernah menghianati hasil. Ini terbukti dari sepenggal cerita dari
mahasiswi yang menorehkan hasil memuaskan di jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam (KPI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung. Walaupun bisa
dibilang, dara 20 tahun ini meniti masa kuliahnya di kampus yang sederhana,
tetapi nyatanya dalam hal belajar, dia tekuni secara giat dan maksimal. Lahir
di Tulungagung, kota kecil di pesisir wilayah Jawa Timur pada 30 Maret 1996,
dara cantik ini tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat yang
religius. Ini terbukti dari sikap kesehariannya, yang memegang teguh keimanan
dimanapun dan kapapun ia berada. Selain mengklaim sebagai wujud rasa syukur
akan nimat dari Tuhan, sikap religius ini juga merupakan cermin dari perilaku
dalam aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Hal ini pula yang melatarbelakangi
anak dari pasangan pak Tukani dan ibu Yulis ini untuk tetap eksis di bangku diniyah. Disaat teman-teman seusianya
lebih memilih hangout atau malah memilih kursus, ia malah memilih
meneruskan menimba ilmu agama. Selain bermanfaat untuk diterapkan di kehidupan
sehari-hari, ilmu agama ini juga bermanfaat ketika berada diakhreat kelak.
Dara berhijab ini sekarang tengah
menempuh jenjang pendidikan Strata 1 (S1) di kampus IAIN Tulungagung, semester
5 di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Masuk sebagai mahasiswi yang
pandai dikelas, hampir semua ilmu pengetahuan ia kuasai, termasuk dalam urusan
ilmu agama. Selalu aktif bertanya dan mengemukakan gagasan adalah ciri khas
dara berkulit sawo langsat ini. Sifatnya yang hangat dan selalu tersenyum ini,
membuat semua teman maupun dosen ketika mengajar nyaman dan cukup antusia untuk
menyanggah gagasan dari dara yang satu ini. Maka tak heran jika selepas Ujian
Akhir Semester (UAS), nilai yang ia
peroleh selalu diatas teman-teman yang lain. Selain itu hampir semua dosen yang
mengajar kenal dengan sosok yang ramah ini.
Dipetak rumah yang cukup luas ini,
Tania, begitu teman-teman dan orang sekitar memanggilnya, hidup bersama ibunya.
Dari ia bangun di pagi hari sampai terlelap dimalam hari. Cukup padat aktivitas
yang ia lakukan setiap harinya, mulai dari membantu orang tua, sampai menjadi
aktivis di desanya. Dari tuturnya dara yang hangat ini mengikuti organisasi
ke-Islam-an yang ada didesanya. Selain untuk menambah teman, organisasi ini
juga sebagai tempat ia belajar, baik dalam hal keilmuan atau keorganisasian,
lanjut tuturnya. Memang, menurut penuturan salah satu rekannya, sosok Tania ini
selain ia hangat kepada setiap orang, (ini penulis juga merasakan sifat hangat
dari Tania ini, ketika penulis mewawancarainya waktu itu, begitu ramah, terbuka
kepada penulis) selain itu ia juga pandai dalam mengolah kata-kata, karena hal
itu pula ia juga mempunyai banyak teman.
Dalam kesibukan yang lain, dara
cantik ini juga mempunyai hobi memasak. Dalam sesi wawancara dengan Hitz, Tania
mennceritakan bahwa ia suka sekali memasak, berbagai makanan ia masak, mulai
dari makanan untuk ia makan sehari-hari atau yang lebih ia suka adalah memasak
kue dihari lebaran. Mungkin hal ini wajar, berhubung Tania juga sorang waita,
ada naluri untuk memasak, karena ada etis masyarakat yang mengharuskan wanita
itu pintar memasak. Jika seorang wanita tidak pandai memasak atau bahkan tidak
bisa memasak, maka ada pandangan yang kurang baik terhadap wanita itu sendiri.
Selain itu, jika kita pandai memasak, selain lebih hemat kita tahu dengan
selera kita dan lebih terjamin higenis dari pada kita membeli makanan dari
luar. Tetapi meski ia mempunyai hobi memasak, yang tidak dapat dipungkiri dari
sosok Tania ini adalah, pandainya ia dalam mengolah kata, menjadi sebuah frasa
yang dapat dimengerti oleh orang lain, baik dalam bentuk vocal (suara) atau pun
karya tulisan. Dari hal itu, penulis mengambil benang merah bahwa selain
memasak ada hobi lain yang selalu digandrungi oleh dara berparas Jawa kental
ini, yaitu membaca dan menulis.
Ada hal cukup menarik dalam ia belajar menurut penulis.
Bagaimana tidak, disamping kewajibannya membantu orang tuanya, dan juga
kesibukan lainnya, Tania masih menyempatkan unnutk belajar dan membaca buku.
Dalam beberapa waktu juga, ia juga sering menerbitkan berbagai tulisan di akun
blog pribadinya. Kembali topik unik dalam ia belajar. Penulis mngatakan ada
kebiasaan unik yang dilakukan oleh Tania ini. Dari penuturannya seraya penulis
menyeruput secangkir kopi hangat, ia biasanya belajar pada pukul 22.00 WIB, itu
ia pergunakan unutk mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan unutk membaca dan
belajar unutk kuliah esok hari ia menjadwalkan pukul 02.00/03.00 WIB yang
kadang ia lanjutkan dengan sholat tahajud dan sholat subuh. Yang menjadi hal
unik disini adalah, ia tidak meninggalkan kewajibannya dalam hal belajar, dan
ia menyempatkan waktu pada waktu yang sekiranya remaja seusianya lebih memilih
untuk terlelap dengan alasan capek dengan rutinitas yang ia lakukan,
atau ada pula yang sekedar berkumpul dengan teman-temannya ditongkrongan tanpa
memikirkan untuk belajar.
Penulis memang pernah mendengar
sebuah studi yang mengatakan bahwa belajar di waktu pagi hari dapat
meningkatkan kinerja otak secara maksimal. Selain itu menurut ceramah ilmiah
dari Bapak Ngainun Naim, selaku dosen di IAIN Tulungagung juga berpendapat, waktu
belajar di pagi hari juga akan mempunyai daya tampung ingatan yang cukup besar
sehingga waktu nanti dikelas, ilmu yang sudah dibaca sekiranya dapat diingat
dan dijelaskan di kelas. Hal ini sebelumnya sudah dibuktikan oleh Bapak Ngainun
Naim sendiri, beliau menciptakan karya tulis dan mempersiapkan materi
mengajarnya pada waktu sedemikian rupa, dan hasilnya apa yang beliau sampaikan
cukup menarik minat mahasiswa didalam kelas. Meskipun itu tidak terlepas dari
sikap dan sifat dari pribadi
masing-masing, akan tetapi unutk memaksimalkan kinerja otak memang itu sudah
dibuktikan dari para ahli.
Diluar
kesibukkan dalam kuliah dan juga aktivis diorganisasi ke-Islam-an yang
diuleninya, dara asli tulungagung ini juga menyempatkan diri untuk bergabung
kelompok belajar mengajar atau lembaga kursus didesanya. Dalam aktivitasnya
itu, Tania membagikan ilmu yang sudah dimilikinya kepada anak-anak yang ikut
serta menjadi anggota lembaga tersebut. Banyak yang ia peroleh selama ikut
serta disana, “sukanya ketika melihat anak-anak itu mendapat nilai yang
bagus dan berprestasi di sekolah” begitu tuturnya, “tetapi yang kadang
aku sendiri sedih, karena belum maksimal membagi waktu, yang kadang mereka aku
tangguhkan untuk kesibukan ku yang lain” lanjutya. Memang dara satu ini
bisa dibilang cukup berprestasi, torehan nilainya tidak ada yang dibawah, semua
mendekati sempurna atau bahkan sempurna, temen-teman dan keluarga juga mengakui
akan prestasi Tania. Maka tak heran jika anak didik Tania juga mempunyai
prestasi yang baik disekolah. Disitulah ada kebanggaan tersendiri bagi Tania,
karena memang ia tidak pernah mulu-muluk dalam menjalami kehidupan. Itulah
sepenggal cerita mengenai dara asli Tulungagung yang berprestasi di kelas dan
loyal di luar. Ada cerita yang unik dari perjalanan dara yang satu ini, dimana
memang proses itu tidak pernah menghianati hasil, bagaimanapun caranya.[]