Feature

Senin, 18 September 2017

Feature


CANTIK, HANGAT, PINTAR
Sepenggal kisah dari “Tania Pramayuani”

By : Ari Gallih

“Kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan sesuatu yang bernilai dalam suatu budaya”Howard Gardner

P
roses memang tidak pernah menghianati hasil. Ini terbukti dari sepenggal cerita dari mahasiswi yang menorehkan hasil memuaskan di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung. Walaupun bisa dibilang, dara 20 tahun ini meniti masa kuliahnya di kampus yang sederhana, tetapi nyatanya dalam hal belajar, dia tekuni secara giat dan maksimal. Lahir di Tulungagung, kota kecil di pesisir wilayah Jawa Timur pada 30 Maret 1996, dara cantik ini tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat yang religius. Ini terbukti dari sikap kesehariannya, yang memegang teguh keimanan dimanapun dan kapapun ia berada. Selain mengklaim sebagai wujud rasa syukur akan nimat dari Tuhan, sikap religius ini juga merupakan cermin dari perilaku dalam aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Hal ini pula yang melatarbelakangi anak dari pasangan pak Tukani dan ibu Yulis ini untuk tetap eksis di  bangku diniyah. Disaat teman-teman seusianya lebih memilih hangout atau malah memilih kursus, ia malah memilih meneruskan menimba ilmu agama. Selain bermanfaat untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari, ilmu agama ini juga bermanfaat ketika berada diakhreat kelak.
            Dara berhijab ini sekarang tengah menempuh jenjang pendidikan Strata 1 (S1) di kampus IAIN Tulungagung, semester 5 di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Masuk sebagai mahasiswi yang pandai dikelas, hampir semua ilmu pengetahuan ia kuasai, termasuk dalam urusan ilmu agama. Selalu aktif bertanya dan mengemukakan gagasan adalah ciri khas dara berkulit sawo langsat ini. Sifatnya yang hangat dan selalu tersenyum ini, membuat semua teman maupun dosen ketika mengajar nyaman dan cukup antusia untuk menyanggah gagasan dari dara yang satu ini. Maka tak heran jika selepas Ujian Akhir Semester  (UAS), nilai yang ia peroleh selalu diatas teman-teman yang lain. Selain itu hampir semua dosen yang mengajar kenal dengan sosok yang ramah ini.
            Dipetak rumah yang cukup luas ini, Tania, begitu teman-teman dan orang sekitar memanggilnya, hidup bersama ibunya. Dari ia bangun di pagi hari sampai terlelap dimalam hari. Cukup padat aktivitas yang ia lakukan setiap harinya, mulai dari membantu orang tua, sampai menjadi aktivis di desanya. Dari tuturnya dara yang hangat ini mengikuti organisasi ke-Islam-an yang ada didesanya. Selain untuk menambah teman, organisasi ini juga sebagai tempat ia belajar, baik dalam hal keilmuan atau keorganisasian, lanjut tuturnya. Memang, menurut penuturan salah satu rekannya, sosok Tania ini selain ia hangat kepada setiap orang, (ini penulis juga merasakan sifat hangat dari Tania ini, ketika penulis mewawancarainya waktu itu, begitu ramah, terbuka kepada penulis) selain itu ia juga pandai dalam mengolah kata-kata, karena hal itu pula ia juga mempunyai banyak teman.
            Dalam kesibukan yang lain, dara cantik ini juga mempunyai hobi memasak. Dalam sesi wawancara dengan Hitz, Tania mennceritakan bahwa ia suka sekali memasak, berbagai makanan ia masak, mulai dari makanan untuk ia makan sehari-hari atau yang lebih ia suka adalah memasak kue dihari lebaran. Mungkin hal ini wajar, berhubung Tania juga sorang waita, ada naluri untuk memasak, karena ada etis masyarakat yang mengharuskan wanita itu pintar memasak. Jika seorang wanita tidak pandai memasak atau bahkan tidak bisa memasak, maka ada pandangan yang kurang baik terhadap wanita itu sendiri. Selain itu, jika kita pandai memasak, selain lebih hemat kita tahu dengan selera kita dan lebih terjamin higenis dari pada kita membeli makanan dari luar. Tetapi meski ia mempunyai hobi memasak, yang tidak dapat dipungkiri dari sosok Tania ini adalah, pandainya ia dalam mengolah kata, menjadi sebuah frasa yang dapat dimengerti oleh orang lain, baik dalam bentuk vocal (suara) atau pun karya tulisan. Dari hal itu, penulis mengambil benang merah bahwa selain memasak ada hobi lain yang selalu digandrungi oleh dara berparas Jawa kental ini, yaitu membaca dan menulis.
            Ada hal cukup menarik dalam ia belajar menurut penulis. Bagaimana tidak, disamping kewajibannya membantu orang tuanya, dan juga kesibukan lainnya, Tania masih menyempatkan unnutk belajar dan membaca buku. Dalam beberapa waktu juga, ia juga sering menerbitkan berbagai tulisan di akun blog pribadinya. Kembali topik unik dalam ia belajar. Penulis mngatakan ada kebiasaan unik yang dilakukan oleh Tania ini. Dari penuturannya seraya penulis menyeruput secangkir kopi hangat, ia biasanya belajar pada pukul 22.00 WIB, itu ia pergunakan unutk mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan unutk membaca dan belajar unutk kuliah esok hari ia menjadwalkan pukul 02.00/03.00 WIB yang kadang ia lanjutkan dengan sholat tahajud dan sholat subuh. Yang menjadi hal unik disini adalah, ia tidak meninggalkan kewajibannya dalam hal belajar, dan ia menyempatkan waktu pada waktu yang sekiranya remaja seusianya lebih memilih untuk terlelap dengan alasan capek dengan rutinitas yang ia lakukan, atau ada pula yang sekedar berkumpul dengan teman-temannya ditongkrongan tanpa memikirkan untuk belajar.
            Penulis memang pernah mendengar sebuah studi yang mengatakan bahwa belajar di waktu pagi hari dapat meningkatkan kinerja otak secara maksimal. Selain itu menurut ceramah ilmiah dari Bapak Ngainun Naim, selaku dosen di IAIN Tulungagung juga berpendapat, waktu belajar di pagi hari juga akan mempunyai daya tampung ingatan yang cukup besar sehingga waktu nanti dikelas, ilmu yang sudah dibaca sekiranya dapat diingat dan dijelaskan di kelas. Hal ini sebelumnya sudah dibuktikan oleh Bapak Ngainun Naim sendiri, beliau menciptakan karya tulis dan mempersiapkan materi mengajarnya pada waktu sedemikian rupa, dan hasilnya apa yang beliau sampaikan cukup menarik minat mahasiswa didalam kelas. Meskipun itu tidak terlepas dari sikap dan sifat  dari pribadi masing-masing, akan tetapi unutk memaksimalkan kinerja otak memang itu sudah dibuktikan dari para ahli.

            Diluar kesibukkan dalam kuliah dan juga aktivis diorganisasi ke-Islam-an yang diuleninya, dara asli tulungagung ini juga menyempatkan diri untuk bergabung kelompok belajar mengajar atau lembaga kursus didesanya. Dalam aktivitasnya itu, Tania membagikan ilmu yang sudah dimilikinya kepada anak-anak yang ikut serta menjadi anggota lembaga tersebut. Banyak yang ia peroleh selama ikut serta disana, “sukanya ketika melihat anak-anak itu mendapat nilai yang bagus dan berprestasi di sekolah” begitu tuturnya, “tetapi yang kadang aku sendiri sedih, karena belum maksimal membagi waktu, yang kadang mereka aku tangguhkan untuk kesibukan ku yang lain” lanjutya. Memang dara satu ini bisa dibilang cukup berprestasi, torehan nilainya tidak ada yang dibawah, semua mendekati sempurna atau bahkan sempurna, temen-teman dan keluarga juga mengakui akan prestasi Tania. Maka tak heran jika anak didik Tania juga mempunyai prestasi yang baik disekolah. Disitulah ada kebanggaan tersendiri bagi Tania, karena memang ia tidak pernah mulu-muluk dalam menjalami kehidupan. Itulah sepenggal cerita mengenai dara asli Tulungagung yang berprestasi di kelas dan loyal di luar. Ada cerita yang unik dari perjalanan dara yang satu ini, dimana memang proses itu tidak pernah menghianati hasil, bagaimanapun caranya.[]

0 komentar :

Posting Komentar