Drama Diatas Tahta

Senin, 16 Mei 2016

Drama Diatas Tahta





“Ketika Sangkuni Terlahir Kembali”

Sungguh ironis melihat keadaan negeri ini sekarang. Ibarat zaman Jahilliah yang terulang kembali, dimana moral dikantongi dan dusta disebar dimana-mana. Dari yang salah dijadikan benar dan yang benar menadi korban sampai pemimpin yang sudah melupakan amanah sebagai seorang pemimpin. Kebijakan “siapa yang berkuasa akan bahagia” menjadi motto utama para penguasa di negeri ini. Kedustaan diantara mereka kian merajalela, namun dengan entengnya mereka menggemborkan kesejahteraan, keamanan, keadilan bagi “seluruh” masyarakat negeri. Entah siapa yang “bodoh” dalam hal ini. Kau (penguasa) atau aku (pekerja).
Kau bilang penanaman ideologi yang benar berawal ketika masih kecil. Dari keluarga, lingkungan sampai pemerintah mengedepankan penanaman ideologi harus “nasionalisme”. Ideologi dengan menjunjung tinggi rasa “nasionalisme”, mengedepankan prinsip kemanusiaan, tidak menerima apapun dalam maksud menyuap, dan memberantas segala bentuk kejahatan moral. Tapi, setelah aku mempunyai ideologi seperti itu, dan itu sangat kuat terasa melekat sampai sum-sum tulangku. Dengan entengnya kau anggap aku sebagai sebuah ancaman yang akan menggeser kekuasaanmu. Terus untuk apa kau suruh aku menanamkan ideologi tapi kemudian kau beri aku ulat untuk menggergoti ideologiku ??? kau yang “bodoh” atau aku yang dengan lugunya dapat kau permainkan layaknya lakon dalam pewayangan.
Mirip seperti sang “Sengkuni” yang licik dan mau menang sendiri meski dengan cara apapun, kau permaikan aku seperti kau mempermaikan dadu layaknya “Sengkuni” dalam permainan “judi” dadu. Kau belai aku, kau beri aku kenyamanan, tapi dibelakang itu kau punya niat busuk untuk memperdayaku, agar kau menang dalam pertarungan”judi”mu itu. Dalam judimu itu aku hanya bisa mengikuti alur permainanmu. Begitu patuhnya aku, tanpa mengeluh apapun kepadamu, meski kau selalu menindas, mempermainkan aku, selalu membuatku tersakit-sakit. Ketika ku mulai berontak akan ketimpangan yang aku rasakan, kau memberiku pecutan yang membekas sampai akar tulangku. Pecutan yang akan membungkam mulutku sampai seribu bahasa. Sampai aku tak dapat mengungkap apa yang aku rasakan. 

Ketika drama berada diatas tahta
Ketika kau bertindak semena-mena
Dengan mengatasnamakan kekuasaan
Kau memecut aku sampai tak berdaya
Dengan uang kau membungkam aku sampai seribu bahasa
Kau tak punya hati atau bagaimana ?
Tanpa ada kuasa aku memberontak
Karena selalu kau ancam  
Dengan kuasamu aku akan sirna

lewat secarik kata ini aku ungkapkan
Untuk mengungkap sesaknya rasa didada
Sakit yang terus ku tahan
Sampai dada ini tak lagi dapat menampung semuanya
Ingin ku berteriak disamping telinga cureg yang kau punya
“AKU INGIN BEBAS, DARI SEGALA POLAH TINGKAH MU !!!!”

Kenapa aku bisa sebodoh ini, sampai “kau” yang “busuk” seperti itu dapat mempengaruhi aku. Kau yang terlahir bagai “Sengkuni” dijaman ini. Kau yang membawa “kebodohan”, dan menjauhkan semua dari rasa tentram dan aman. Aku berharap akan ada “Bima” yang dapat membunuhmu. Yang dapat menghapus dosa yang tlah kau tabur dimuka bumi ini. Dengan membinasakan semua anak turunmu, agar tidak terulang kembali sengkuni-sengkuni yang lain. Tapi apakah itu akan menhapus sengkuni dari muka bumi ini ? meski tak dapat dipungkiri bahwa akan ada sengkuni lain yang muncul bukan dari anak turunmu, aku berharap sengkuni itu akan binasa sebelum mereka berkuasa.

-Ga-

0 komentar :

Posting Komentar