Senin, 16 Mei 2016

Malam di Tepi Pantai





Karya : Gallih Ari Fadli
Sudah cukup lama sejak hari itu, tak ku jumpai langit seindah ini
Bintang yang bertaburan bagai disebar malaikat
Bulan bersinar menyinari luasnya dunia
Angin yang sejuk berhembus membelai sekujur tubuhku
Kurasa nyaman, sembari menghela nafas panjang
Malam yang tenang, dengan iringan merdu deburan ombak

Sudah lama sekali, . . . .
Tak kurasa kebebasan seperti ini
Bagai burung yang terlepas dari sangkar
Ingin ku terbang mengelilingi indahnya dunia
Dengan sayap kecilku ingin ku luapkan perasaan ini
Perasaan yang teramat dalam
Bebas aku menikmati indahnya dunia

Lantas kenapa air mata ini bercucuran ?
Adakah beban yang masih aku panggul ?

Kurasa bukan beban
Melaikan perasaan yag tak dapat tergambarkan oleh apapun jua
Kebebasan dari jeratan tugas-tugas yang membelenggu
Menjirat leherku, hingga ku tak bisa apa-apa
Tapi kini semua itu tlah berlalu
Kini, malam ini akan ku nikmati malam yang indah ini
Meski aku tak tau seberapa lama aku bisa seperti ini
Dalam lamunan ditepi pantai Sanur
  
 -Ga-

Literature 2



Relasi Agama dan Teori Sosial Kontemporer

Sekilas Tentang Buku:
Hingga hari ini, wacan seputar relasi agama dan teori sosial masih menjadi penggalan endek dari sejarah panjang peradaban manusia. Sejumlah pernak-pernik dari grand wacana hubungan panjang dan tak pernah berujung antara agama dan perubahan sosial ini dapat kita lihat secara jelas, misalnya dengan adanya fundamentalisme agama, konflik antaragama, dan lain sebagainya.
Lantas, di manakah letak agama dalam perubahan sosial semacam itu ?
Dalam perspektif sosiologis, agama dipahami sebagai fenomena dan fakta sosial yang dialami ileh banyak orang. Dengan kata lain, sosiologi coba mendekati agama dari sisi praktisdan wilayah sosialnya. Sebab, ilmu ini tidak akan bisa berkata apa-apa tentang relevansi agama dalam kehidupan manusia jika sekadar melihat agama sebagai sistem (dogma dan moral), tanpa menelistik lebih dalam lagi hingga menjangkau bukti-bukti empiris dari sistem itu. Singkatnya, sosiologi hendaknya mencari atau menyoroti dimensi sosiologis dari bukti-bukti empiris atau fenomena agama.
Weber, sebagaimana beberapa sosiolog lainnya, pun mengakui bahwa agama sebagai pengalaman transeden merupakan nyawa bagi perilaku manusia, yang meniscayakan serpihan-serpihan aksiologis. Oelh karena itu, dalam buku yang garang membelejeti  kerangka filosofis Nietzsche, Hume, Buber,  Borges, Freud hingga Foucault ini, Bryan S. Turner menegaskan satu mainstream bahwa agama sebagai karya Tuhan akan senantiasa dibedah dan disimbiosiskan dengan beragam teori sosial sebagai karya manusia. Inilah letak pentingnya buku besar sosiologi ini.

Drama Diatas Tahta





“Ketika Sangkuni Terlahir Kembali”

Sungguh ironis melihat keadaan negeri ini sekarang. Ibarat zaman Jahilliah yang terulang kembali, dimana moral dikantongi dan dusta disebar dimana-mana. Dari yang salah dijadikan benar dan yang benar menadi korban sampai pemimpin yang sudah melupakan amanah sebagai seorang pemimpin. Kebijakan “siapa yang berkuasa akan bahagia” menjadi motto utama para penguasa di negeri ini. Kedustaan diantara mereka kian merajalela, namun dengan entengnya mereka menggemborkan kesejahteraan, keamanan, keadilan bagi “seluruh” masyarakat negeri. Entah siapa yang “bodoh” dalam hal ini. Kau (penguasa) atau aku (pekerja).
Kau bilang penanaman ideologi yang benar berawal ketika masih kecil. Dari keluarga, lingkungan sampai pemerintah mengedepankan penanaman ideologi harus “nasionalisme”. Ideologi dengan menjunjung tinggi rasa “nasionalisme”, mengedepankan prinsip kemanusiaan, tidak menerima apapun dalam maksud menyuap, dan memberantas segala bentuk kejahatan moral. Tapi, setelah aku mempunyai ideologi seperti itu, dan itu sangat kuat terasa melekat sampai sum-sum tulangku. Dengan entengnya kau anggap aku sebagai sebuah ancaman yang akan menggeser kekuasaanmu. Terus untuk apa kau suruh aku menanamkan ideologi tapi kemudian kau beri aku ulat untuk menggergoti ideologiku ??? kau yang “bodoh” atau aku yang dengan lugunya dapat kau permainkan layaknya lakon dalam pewayangan.
Mirip seperti sang “Sengkuni” yang licik dan mau menang sendiri meski dengan cara apapun, kau permaikan aku seperti kau mempermaikan dadu layaknya “Sengkuni” dalam permainan “judi” dadu. Kau belai aku, kau beri aku kenyamanan, tapi dibelakang itu kau punya niat busuk untuk memperdayaku, agar kau menang dalam pertarungan”judi”mu itu. Dalam judimu itu aku hanya bisa mengikuti alur permainanmu. Begitu patuhnya aku, tanpa mengeluh apapun kepadamu, meski kau selalu menindas, mempermainkan aku, selalu membuatku tersakit-sakit. Ketika ku mulai berontak akan ketimpangan yang aku rasakan, kau memberiku pecutan yang membekas sampai akar tulangku. Pecutan yang akan membungkam mulutku sampai seribu bahasa. Sampai aku tak dapat mengungkap apa yang aku rasakan. 

Ketika drama berada diatas tahta
Ketika kau bertindak semena-mena
Dengan mengatasnamakan kekuasaan
Kau memecut aku sampai tak berdaya
Dengan uang kau membungkam aku sampai seribu bahasa
Kau tak punya hati atau bagaimana ?
Tanpa ada kuasa aku memberontak
Karena selalu kau ancam  
Dengan kuasamu aku akan sirna

lewat secarik kata ini aku ungkapkan
Untuk mengungkap sesaknya rasa didada
Sakit yang terus ku tahan
Sampai dada ini tak lagi dapat menampung semuanya
Ingin ku berteriak disamping telinga cureg yang kau punya
“AKU INGIN BEBAS, DARI SEGALA POLAH TINGKAH MU !!!!”

Kenapa aku bisa sebodoh ini, sampai “kau” yang “busuk” seperti itu dapat mempengaruhi aku. Kau yang terlahir bagai “Sengkuni” dijaman ini. Kau yang membawa “kebodohan”, dan menjauhkan semua dari rasa tentram dan aman. Aku berharap akan ada “Bima” yang dapat membunuhmu. Yang dapat menghapus dosa yang tlah kau tabur dimuka bumi ini. Dengan membinasakan semua anak turunmu, agar tidak terulang kembali sengkuni-sengkuni yang lain. Tapi apakah itu akan menhapus sengkuni dari muka bumi ini ? meski tak dapat dipungkiri bahwa akan ada sengkuni lain yang muncul bukan dari anak turunmu, aku berharap sengkuni itu akan binasa sebelum mereka berkuasa.

-Ga-

Sabtu, 14 Mei 2016

CINTA




Kaya : Kahlil Gibran
 

AKU bicara perihal Cinta ????…

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia
kan menyalibmu.

Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.

Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.