Jumat, 13 Mei 2016

PELUKAN HANGAT TUBUHMU



karya : Gallih Ari Fadli

kau yang kini bukan miliku
kenapa ku terus terbayang dirimu
terbayang akan hangatnya pelukmu
yang terus ku rasa dari mentari bangkit sampai tertidur

inginku lupakan segala tentangmu
akan indahnya dirimu
kau yang bagai bidadari hidupku
harus sirna karna kesalahanku

begitu bodohnya diriku
melepas makhlik sesempurna dirimu
yang tak pernah lelah mencintaiku dan mampu menerimaku
yang selalu ada disaat suka maupun dukaku

kaulah penyemangatku
kaulah bintangku
tapi  kini semuatlah menjadi abu
akan indahnya peluk hangat tubuhmu

-Ga-

Kamis, 12 Mei 2016

About Me (Sorry Lebay)


Perkenalkan nama gue Gallih ari fadli. Umur gue masih sangat muda, yaitu 17 tahun lebih 11 bulan(saat bikin nih cerita). Tinggi gue kagak sampek 2m hanya 172,5 cm. Berat badan gue kagak nentu, kadang 59, 60, 61, 62 dan kembali lagi ke 59, anehnya tuh berat badan kayak gitu tiap minggunya. Paras wajahk gue indo banget, tapi indo juga blesteran (bukan petelor sama kampung) jawa-sumatra, jadi agak rada cakep jadinya. Dengan kulit sawo hampir busuk (sekalian aja ada uletnya), aku sekarang(saat bikin nih cerita) tinggal bersama kedua orang tuaku. Di sebuah desa kecil dipinngir kota Tulungagung, Jawa Timur (lebay banget tong lu nulisnya). “biyariinn...weeekkk.... main koment aja lu”.
Gue ni kakak dari adik-adik gue (ceileh adik-adik), ia karena adik gue itu ada banyak, adik kandung ku sih cuma 1 adik ipar gue lupa berapa jumlahnya, dan adik-adik yang laen nemu dijalanan(nemu? Lu kira recehan), iye dah...sorry buat adik-adikku. Mereka itu(yang ngakunya jadi adik) sebenarnya bukan keinginan mereka menjadi adik, tapi karena gak ke sampean jadi pacarku yah jadi adik-adik ku dah.....(ceileh...PeDe amat lu tong)” sebenernye, lu siapa sih koment-koment mulu”(gue ni hati lu somvl*k, nih di sensor)”owh...hati gue ye....”(ye pe*k, sensor lagi)
Status gue saat ini sedang merana gulana pedas membakar jiwa keronta-ronta tiada duanya(lebay lu tong, bilang aje lu galau karena ngejomblo)”iye... gue emang jomblo, jomblo yang masih gress....” (Seberapa gres, btw kaya mobil keluar dealer aja lu.) Udah satu tahun yang lalu "dihitung dari nih cerita dibuat" (Kampret itu mah udah lama kalees.....). Ngenes emang tapi inilah hidup sob.... meski gau jomblo tapi i’m happy.(Happy gundulmu, nasib elo ngenes masih visa bilang happy.) "Serah gue dong, hidup-hidup gue, elu yang repot" (!$#@^%!@$&!#@!)
Hobi gue tuh tergantung (sakit tong tergantung, ato sekalian aje pake terk gandeng) ”itu truk gandeng _- , yaudah gue ganti relativ nih”. Jadi hobi gue relativ dari mood” enggak enak tuh jadinya” (yaudah deh, terserah lu aje tong), nah hobi gue itu tergantung mood “sorry terganggu perang batin yang dimenangkan oleh timnas u-1, lanjut,...” bisa kadang-kadang gue gambar-gambar sendiri (kayak ki soleh pati aje lu), kadang nulis-nulis kek gini, nih hobi ku yang paling saya lakukan, tidur disaat malem.(tong, tuh mah bukan hobi tapi kewajiban lu bahkan semua orang di dunia ni....)
Ape lagi yak, cerita tentang gue ”heh...hati lu punya cerite buat gue kagak?? Kalo lu punye cepet lu ceritain ke gue, ntar gue ketik”(bentar somvl*k, nih gua juga masih mikir nih)”nah karena berhubung, perut gue kering, gue tinggal dulu aje ye, ceritanye gue sambung ntar dulu.........”(nih ceritanye lagi makan).

“Nah nih balik udah balik lagi, lanjut,....”. Saat guenulis cerita nih, gue sedang berada di ujung sungai kelulusan, yah gue sudah kelas XII. Gue sekolah di sekolah yang bisa dibilang cukup ternama di kota ku(serius amat bacanya). Niatnya sih guesetelah lulus mau ngelanjutin di sekolah tinggi yang ada  di Lampung (jauh amat tong, kagak sekalian aja lu ke Papua sana) ”diem lu berisik amat sih” iya jadi gue pengen ke Lampung, soalnya gue pengen mandiri (mandi sendiri??) ”yaelah...ya bukan lah...mandiri : mangan di beri teri” tapi entah kenapa kedua orangtua tetangga gue kagak setuju (orangtua tetangga lu???) eittsss....sorry...orangtua gue enggak setuju, katanya sih jauh kampusnya sama rumah nenek gue.

KONFLIK AGAMA II



Dewasa ini mulai menyeruak kembali konflik diantara umat beragama. Meski diketahui bahwa agama yang seharusnya menjadi pedoman hidup, malah menjadi sumber konflik diantara sesamanya. Alasannya hanya sepele, semua itu tidak dicontohkan nabi sewaktu masih hidup. Masalah – masalah sepeti ini yang seharusnya bisa menjadi bentuk pluralisme dari suat ajaran malah menjadi suatu permasalahan yang tak kunjung berhenti. Permasalahan halal atau haram, bid’ah atau tidak menjadi pokok dari permasalahan yang timbul. Ini sungguh mnegcewakan, khususnya ini kebanyakan dilakukan oleh pemuka agama, atau orang yang lebih mengerti tentang konsep keagamaan. Pluralisme di Indonesia menjadi suatu ciri khas dari negara lain didunia. Meski dari luar terlihat tenteram dan saling toleransi. Namun di dalam struktural keagamaan terjadi polemik diantara agama yang ada. Polemik ini tidak hanya terjadi dalam antaragama, tapi juga sesama agama pun mempunyai polemik karena perbedaan kaidah yang dianut.

Islam di Indonesia menjadi agama terbesar dan menjadi mayoritas di masyarakat Indonesia. Dengan besarnya ummat Islam di Indonesia tentu memunculkan berbagai masalah atau problem yang sebenarnya itu bukan sesuatu yang patut dipermasalahkan. Karena agama Islam di Indonesia itu mengadopsi beberapa budaya yang sebenarnya bukan budaya asli dari Islam. Misalnya dari budaya orang jawa asli atau kejawen itu ada yang namanya serah bumi, larungan, dan beberapa kebudayaan lain. Yang sebernarnya itu bukan budaya asli agama Islam, namun di sublimasi dan dimasuki ajaran Islam. Budaya seperti ini termasuk dari salah satu cara penyebar Islam  zaman dahulu untuk menyebarkan Islam di Indonesia. Jadi mereka dalam menyebarkan Islam pastinya sudah melakukan ijtihad sebelum melakukan akuturas budaya tersebut.

Harus perlu dipahami bahwa, konsep dari agama sendiri seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan khusunya dalam menyelaesaikan konflik. Tapi kembali lagi pada oknum agama itu sendiri, bagaimana dia mampu menafsirkan konsep keagamaan sesuai dengan apa yang dia dapat selama hidupnya. Lalu peran dari organisasi keagamaan itu sendiri masih dipertanyakan. Karena pada dasarnya peran dari organisasi keagamaan itu adalah sebagai label, atau rumah dalah kaidah – kaidah yang ada. Di Indonesia sendiri organisasi keagamaan atau aliran berkembang dengan mudah. Namun semua hal yang bersangkutan dengan agama akan kembali ke pihak pemerintahan. Namun, pemerintah tidak begitu mempermasalahkan konflik internal diantara ummat beragama. Karena Indonesia merupakan negara pluralisme yang memiliki agama kuran lebih 5 yang diakui oleh pemerintah.

Di sini akan diambilkan salah satu contoh konflik sesama umat beragama yang sejauh ini tidak menemukan titik temunya adalah tahlilan. Salah satu mengatakan bahwa tahlilan boleh dilakukan, meski dari nabi sendiri tidak mencontohkan maupun memberikan dalil yang jelas mengenai hal ini. Di satu pihak mengatakan bahwa tahlilan ini meupakan bid’ah yang tidak boleh dilakukan, dengan alasan nabi tidak pernah melakukan, serta alasan yan lain sesuai dengan kaidah ang dianut. Ini sangat ironis, masalah seperti ini menimbulkan konflik yang malah memecahkan agama itu sendiri. Diamana seharusnya agama menjadi penyelesai dalam berbagai konflik yang ada, malah menjadi pemicu perpecahan diantara ummat beragama. Dari interpretasi individu yang salah menjadi konflik yang mengatasnamanakan agama. Yang semula agama diklaim menjadi agama yang baik menjadi agama yang buruk karena ulah beberapa oknum yang mengatasnamakan agama sebagai dalih dari interpretasinya.

DAKWAH MODERN



Dewasa ini dakwah menjadi fenomena yang menjadi tranding topic di masyarakat. Hampir setiap orang mampu untuk berdakwah di depan publik. Dengan berbagai media yang ada mereka mencoba mensyiarkan agama yang mereka anut. Dengan kondisi seperti itu masyarakat tidak perlu lagi mendengarkan ceramah atau tausyiah seorang pemuka agama secara langsung. Namun publik dapat langsung mengakses dakwah seorang pemuka agama di media yang ada. Dengan arus globalisasi yang kian mencuat, berbagai hal kini tidak lepas dari kata modern, tak terkecuali dengan dakwah. Pada masa dahulu dakwah hanya sebatas penyampaian kaidah agama secara langsung, dan hanya sebatas perbuatan yang lazim untuk dilakukan. Sedangkan pada zaman yang serba sekarang ini, dakwah selain sebagai aktivitas penyampaian kaidah agama juga sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai sumber ilmu pengetahuan dakwah telah di gunakan untuk mengajarkan kaidah agama dengan sistem yang jauh terkoordinir.Dengan fenomena-fenomena yang ada sekarang, penyampaian dakwah tidak lagi secara ceramah yang membosankan. Namun telah berkembang menjadi suatu bentuk penyampaian agama dengan konteks yang lebih relax, dan bisa dengan mudah diterima oleh berbagai kalangan yang ada. Dalam prosesnya penyampaian dakwah tidak berubah, maksudnya tidak adanya unsur pemaksaan dalam melakukan kegiatan berdakwah ini. Berbagai hal dilakukan oleh seorang pendakwah agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik di kalangan masyarakat luas. Dengan berpenampilan seperti layaknya anak muda zaman sekarang ataupun bahkan sampai terjun langsung dalam kelompok atau golongan dengan tujuan menyampaikan dan menyerukan pada kegiatan berdakwah. Kegiatan seperti itu sangat lazim ditemukan pada zaman yang semakin canggih ini. Dengan kegiatan seperti itu, diharapkan pendakwah mempunyai ciri khas tersendiri dalam berdakwah

Selain dengan membuat ciri khas, seorang pendakwah juga mulai merajai teknologi yang ada sebagai media dalam ia berdakwah. Pendakwah juga mulai memasuki wilayah media massa dalam melakukan kegiatan berdakwah. Selain memudahkan para audiens dalam mengetahui tentang agama atau ajaran kepercayaan, juga memudahkan pendakwah dalam menyampaikan materi-materinya yang berhubungan dengan dakwah. Jadi jika dilihat dari sudut pandang ini antar kedua belah pihak akan diuntungkan dalam proses berdakwah. Namun, semua hal yang dilakukan pasti akan menuai resiko atau dampak dari kegiatan yang dilakukan termasuk juga dengan dakwah. Dewasa ini kebanyakan dakwah yang dilakukan dengan menggunakan media teknologi yang meski dengan keungulan dapat diakses dimana saja dan kapan saja namun belum tentu audiens dapat mengerti dengan jelas apa yang disampaikan oleh pendakwah. Selain itu, jika audiens kurang memahami maksud dari penyampaian pendakwah tersebut, mereka akan kesulitan mencari jawaban dari maksud  yang disampaikan seorang pendakwah kepadanya.

Di zaman yang serba teknologi seperti ini banyak kajian yang dilakukan oleh setiap orang. Tak terlepas dari semua itu, dakwah pun menjadi sebuah kajian yang patut dibahas lebih mendalam lagi. Karena dalam masa sekarang dakwah selain sebagai media penyampaian kaidah ajaran agama juga digunakan sebagai bahan dalam ilmu pengetahua yang terus dikaji. Karena pada dasarrnya dakwah aadalh suatu metode yang digunakan dalam mengajak ataupun menyampaian kaidan ajaran agama khusunya islam. Terlepas dari sebuah praktek, dakwah digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dimana dakwah sebagai kajian yang digunakan untuk dipublikasi dalam pengajarananya.Bebagai persepsi mengenai dakwah muncul dikalangan masyarakat, definisi dakwah sendiri memiliki banyak arti tergantung orang yang menafsirkannya. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa dakwah ialah proses penyampaian tentang suatu agama, khususnya islam. Namun sebagian kalangan menafsirkan dakwah dalam penafsiran yang begitu rumit sehingga perlu ditelaah lebih dalam lagi. Ini disebabkan karena informasi yang mereka dapat dari beberapa sumber yang berbeda.

Dakwah sendiri secara umum berarti menyampaikan, apa yang disampaikan yaitu berupa ajaran agama atau tindakan yang baik menurut kaidah maupun syariat. Cara atau metode dalam penyampaiannya bisa dalam berbagai hal, dapat berupa berbicara langsung kepada pendengar maupun dengan media pembantu seperti media massa ataupun media sosial. Ciri umum dari praktek berdakwah ini adalah ketika seorang pendakwah/penceramah memberikan pengetahuan atau materi yang disampaikan baik secara langsung maupun tidak dengan tujuan agar mengikuti atau menjalankan apa yang telah disampaikan oleh penceramah/pendakwah. Dalam prosesnya dakwah mengalami berbagai perkembangan baik secara waktu maupun tempat. Dakwah pada zaman Rosulullah SAW sangat jauh berbeda dengan dakwah zaman walisongo, begitupun dakwah pada zaman sekarang yang dimana semua hal bergantung pada teknologi. Dakwah pada zaman dahulu berkarakteristik sangat sempit, seperti tidak ada kebebasan untuk menjalankan dakwah. Sangat berbeda dengan masa sekarang yang bebas untuk melakukan dakwah, dimanapun, kapanpun dan siapapun dapat melakukan kegiatan berdakwah. Kegiatan menyampaikan atau mengajak orang lain utuk berbuat baik adalah salah satu contoh dakwah yang dapat dilakukan pada zaman sekarang. Selain itu menyiarkan ajaran agama melalui media sosial juga termasuk dakwah yang dapat dilakukan pada zaman yang serba terknologi. Kebebasan dalam menyebarkan suatu ajaran dianggap sebagai cara yang efektif dalam mensiarkan suatu ajaran. Namun dalam konteks kebebasan harus ditekankan pada sikap menghargai dan toleransi terhadap ajaran lain. Dengan sikap seperti itu kegiatan yang dilakukan seperti dakwah akan dipandang baik di kalangan publik, daripada harus mencela agama lain dan menganggapnya sebagai ajaran yang sesat.

Dengan kebebasan yang diberikan pada zaman sekarang ini, banyak terjadi peyelewangan teradap kegitan berdakwah. Kegiatan yang dianggap mencela atau menghina agama bahkan aliran sesama agama pun kian marak terjadi dikalangan publik. Seperti sudah menjadi sebuah budaya kegiatan yang justru tidak baik ini dilakukan terus menerus meskipun sudah ada sanksi yang mengikatnya. Selain itu berbagai metode yang dianggap kurang kreatif menjadikan kegiatan berdakwah kian surut peminatnya. Ini bisa dikarenakan karena masyarakat lebih terpaku pada sistem dakwah pada  zaman dahulu, sehingga sedikit sulit menerima dakwah yang disampaikan pada sekarang ini. Keterpakuan ini menyebabkan dakwah menjadi sangat kaku dikalangan masyarakat, dakwah hanya menjadi sebuah sarana hiburan ataupun sekedar penyejuk hati sementara. Selain itu dakwah yang kian bebas menyebabkan banyak proses berdakwah yang mengedepankan kekerasan maupun tindakan pemaksaan. Kondisi yang seperti ini mengakibatkan islam khususnya dipandang tidka baik oleh publik. Dengan berbagai problema tersebut menjadikan dakwah khususnya islam menjadi kurang dalam hal pemintanya. Jika ini terus terjadi berkelanjutan tidak dipungkiri dakwah akan dicabut kebebasannya, sehingga akan kembali ke zaman dimana dakwah dilarang dan dianggap sebagai sebuah ancaman.  Untuk itu para pendakwah harus memperhatikan tata tertib atau norma dalam mengadakan kegiatan yang berbau dengan dakwah atau hal yang bersangkutan dalam penyebaran agama. Hal ini tidak bermaksud dakwah dilarang atau tidak boleh dilakukan, namun perlu adanya pembatasan dalam kegiatan berdakwah. Tidak serta merta dakwah bebas dilakukan di kalangan publik. Beberapa konteks yang bersangkutan dengan kemunduran dakwah diera modern seperti ini.