KONFLIK AGAMA I

Kamis, 12 Mei 2016

KONFLIK AGAMA I



Dalam artiannya konflik itu bermakna sangat luas, namun pada dasarnya konflik merupakan bentuk protes atau ketidaksetujuan individu maupun kelompok dengan melakukan tindakan sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka. Kegiatan ini telah tercipta dari awal dunia ini terbentuk. Tidak hanya manusias semua makhluk hidup yang ada didunia pasti mengalami konflik, baik dengan diri sendiri maupun dengan pihak lain. Peristiwa semacam ini bisa dikatakan sesuatu yang wajar terjadi, karena pada dasarnya semua hal pasti ada konfliknya. Bahkan dalam sosiologi agama ada kelompok “konflik”, dimana mereka mempunyai spekulasi bahwa dunia dapat berubah karena adanya konflik. Koflik sendiri dapat diwujudkan dalam berbagai hal, mulai dari bentuk protes secara lisan maupun bentuk protes melalui tindakan. Berbagai hal dapat dilakukan untuk mewujudkan konflik. Beberapa kasus terjadinya konflik adalah konflik antar budaya, konflik antar umat beragama, konflik dengan diri sendiri. Fenomena yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat modern. Bisa dikatakan juga bahwa konflik tidak hanya terjadi pada masyarakat modern, karena pada dasarnya awal mula konflik berawal dari masyarakat  primitif yang dengan cara mereka  menolak atau menyuarakan bentuk protes mereka pada masyarakat lain maupun dengan diri mereka sendiri. Dalam masyarakat primitif konflik bisa bearwal dari kesalahpahaman dalam memaknai suatu fenomena. Jika pendapat mereka tidak disetujui atau tidak sependapat dengan masyarakat lain, maka disitu akan timbul yang namanya konflik. Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat modern, dimana ketika masyarakat tidak merasa setuju disitu akan mulai tercipta yang namanya konflik. Perbedaan signifikan yang terjadi pada masayarakat primitif dengan modern yaitu, pada cara mereka mengungkapkan bentuk konflik mereka. Ketika melihat pada masyarakat primitif saat terjadi konflik, kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan peperangan atau baku hantam untuk menyelesaikan konflik yang ada. Namun pada msayarakat modern akan lebih mengandalkan ungkapan secara lisan, baik itu dalam media debat atau lainnya yang mana dengan media tersebut dapat menyelesaikan konflik. Pada diri sendiri konflik terjadi karena adanya gejolakan yang terjadi pada hati, ini menimbulkan rasa keresahan, kegelisahan yanga akan berdampak pada kejiwaan  manusia itu sendiri. 

Menurut Durkheim, agama hanya bisa dipahami dengan melihat peran sosial dalam menyatukan komunitas masyarakat. Dengan kata lain agama seharusnya menjadi perekat atau pemersatu dalam masyarakat, meski disisi lain agama  juga menimbulkan perpecahan diantara masyarakat itu sendiri. Peran agama bisa dikatakan sebagai perekat sosial yang seharusnya  bisa menjadi perekat diantara pecahan-pecahan agama itu di saat adanya sebuah ritual keagamaan. Namun dalam kenyataan dewasa ini, masyarakat modern khususnya lebih mementingkan individualisme yang mereka junjung tinggi. Masyarakat hanya sebatas “yakin” dengan ”kebenaran” agama yang mereka anut. Dengan kuasa tersebut manusia merasa bahwa dirinya telah mengerti dan paham mengenai konsep keagamaan yang ada. Dampak signifikan dari fenomena ini adalah terjadinya kesalahpahaman masyarakat dengan konsep keagamaan yang ada. Adanya agama seharusnya menjadi kontrol sosial dimasyarakat, bagaimana agama tersebut menjadi sebuah keyakina dan juga pedoman bagi masyarakat selain itu agama menjadi sebuah kontrol dalam masyarakat. Pengontrolan ini bisa berupa pengontrolan dalam bentuk pegontrolan cara agama terhadap diri manusia. Namun pada sosiologi agama, kontrol sosial ini terfokus pada pengontrolan ekonomi dalam masyarakat. Pendapat ini di kuatkan oleh pemaparan dalam karya-karyanya, bahwa cara menhadapi hubungan antara agama, tubuh dan ekonomi ini sangat selektif. Dalam memahami fungsi sosial agama bagi masyarakat, para sosiolog agama menempatkan agama sebagai perekat sosial yang merekat potensi-potensi antagonistik antar individu atau sebagai candu sosial yang menekan pada konflik kepentingan antar kelompok-kelompok yang cenderung antagonistik. Dalam dua gaya penjelasan ini fungsi dari agama bisa dikatakan mempertahankan kohesi sosial (Wilson, 1982).

Dalam studi kasus yang diangkat dalam tema  ini adalah apakah peran agama saat terjadinya konflik dimasyarakat, apakah agama sebagai pemicu konflik ? Ataukah agama sebagai penyelesai dalam konflik ? adanya beberapa spekulasi yang berkembang dimasyarakat bahwa banyak yang mempertanyakan peran dan fungsi agama terhadap konflik yang berkembang dimasyarakat itu sendiri. Dipicu oleh beberapa fenomena yang mengatas namakan agama sebagai tameng dalam berbagai hal ­­­khusunya agama dijadikan dalih dalam menginvasi wilayah maupun agama lain. Tindakan semacam ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa agama dijadikan sebagai pemicu dalam konflik. Agama akan dianggap sebagai sebuah ancaman bagi agama lain yang merasa ditindas. Dengan fenomena seperti ini akan mengundang persepsi yang buruk terhadap sebuah agama. Ini justru akan berdampak buruk pada agama itu sendiri karena peran agama sudah dikesampingkan yang awalnya agama sebagai kontrol sosial, perekat sosial, pedoman kini sudah beralih haluan menjadi sebuah alat untuk meruntuhkan agama lain. Sebagai hal yang sudah sangat melekat erat pada masayarakat, agama menjadi bagian dari diri manusia itu sendiri. Jadi peran agama sendiri dalam kehidupan masyarakat sebenarnya  sangat penting, karena itu ketika ada pembahasan mengnai agama atau bahkan konsep keagamaan ini akan sangat bersifat sensitif. Jika pembahasan agama itu dianggap sebagai sebuah celaan atau hinaan terhadap agama tersebut, maka disitu akan menimbulkan konflik. Pada kenyataannya konflikbukan dipicu dari konsep keagamaa,tapi konflik terjadi karena manusia itu sendiri. Alasan yang kerap terjadi adalah, semua bentuk seperti itu adalah perintah Tuhan dan itu ditunjukknan sebagai bentuk jihad. Jika manusia itu sendiri yang sengaja menyalahgunakan wewenangnya,muncul pertanyaan kenapa “agama” yang dijadikan alat ? Bukankah agama mengajarkan manusia pada perdaiman, kesejahteraan, ?. Spekulasi mulai berkembang dengan mengangkat masalah peran agama dalam pemicu konflik. Pelaku dalam kegiatan seperti ini tidak hanya  berasal dari masyarakat dengan keilmuan agama yang biasa namun pelaku dengan keilmuan yang tinggi juga melakukan kegiatan yang justru membuat image buruk pada sebuah agama. Beberapa faktor dapat menjadi pemicu terjadinya masalah seperti ini,mulai dari kesalahpahaman memaknai suatu agama, atau memang dengan sengaja semua itu dilakukan demi tujuan politik semata. Yang jelas dampak yang ditimbulkan dari masalah initidaklah kecil, justru masaalah seperti ini akan menimbulkan masalah yang baru dimana itu tidak akan adaujung penyelesaian selama salah satu pihak telah jatuh.

Disisi lain agama juga dapat menjadi penyelesai dari berbagai konflik yang ada dimasyarakat jika menyangkutkan pada aspek agama itu sendiri, bahwa agama didunia ini tidak ada yang mengajarkan permusuhan, peperangan, maupun tindakan lain yang mengancam agama lain. Dalam kaidah agama mengajarkan pada manusia bahwa dalam kehidupan apapun, harus mampu bersatu dan berdamai  dengan sesama manusia juga pada makhluk hidup lain. Agama Islam sendiri yang semua kegiatannya dilakukan atas dasar al-Quran dan Hadist tidak pernah ada seruan untuk memusuhi agama lain. Justru dalam teks-teks yang ada, diajarkan sikap tolransi, menghormati sesama orang beragama. Beberapa kasus misal, agama dijadikan penyelesai atau titik temu dari pada konflik, dalam kehidupan masyarakat muslim dahulu jika ada masalah apapun akan dikembalikan ke kaidah agama itu sendiri. Mereka menjunjung tinggi kaidah agama sehingga agama menjadi penting dan patut untuk di jaga, karena agama sebagai penyelesai dalam berbagai konflik yang ada. Hal tersebut terus berkembang sampai zaman para dinasti, ketika agama Islam terus berkembang dalam berbagai bidang keilmuan. Sebenarnya masyarakat muslim sendiri sudah mengibarkan sayapnya diberbagai belahan didunia. Namun mereka harus kalah saing dengan masyarakat non-muslim dalam hal bidang keilmuan yang lain. Dalam masa kontemporer ini, masih ada beberapa pihak yang menggunakan agama sebagai media dalam menyelesaikan masalah atau konflik, namun dengan cara yang malah menyebabkan pemicu konflik. Jika di telaah lebih lanjut,mereka berasumsi bahwa itu semua adalah titah Tuhan yang telah diwariskan pada mereka sejak zaman nenek moyang. Masalah tentang agama kini kian krusial, jika terjadi suatu konflik khususnya yang menyangkut agama, pasti akan menimbulkan masalah lain yang akan jauh lebih besar lagi. Banyak dari masyarakat modern khususnya menganggap bahwa agama hanya sebagai doktrin belaka, dengan mendogma suatu  agama maka ia dapat dengan leluasanya memainkan peran dalam agama itu. Jika dapat dikaji lebih lanjut lagi akar dari konflik antar manusia khusunya antar umat beragama, berawal  dari manusia yang mengdoktrin dirinya sendiri,  bahwa ia telah mendapatkan hikmah dari Tuhan agar ia membenarkan golongan atau bahkan agama yang dia anggap telah melenceng dari jalan Tuhan. Selain itu kesalahpahaman mengenai para teolog dan filsof  yang dianggap telah menjadi kafir karena sesuatuyang dia pelajari  dianggap telah melenceng atau bahkan yang diapelajari itu tidak pernah ada didalam ajaran agama manapun. Inilah yang menyebabkan berbagai konflik khusunya konflik keagamaan dan ini bukan sesuatu yang asingatautabu lagi, malah sudah menjadi konsumsi bahkan kegiatan di masyarakat. []

0 komentar :

Posting Komentar