KONFLIK AGAMA I
Dalam artiannya konflik itu bermakna sangat luas, namun pada dasarnya
konflik merupakan bentuk protes atau ketidaksetujuan individu maupun kelompok
dengan melakukan tindakan sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka. Kegiatan ini
telah tercipta dari awal dunia ini terbentuk. Tidak hanya manusias semua
makhluk hidup yang ada didunia pasti mengalami konflik, baik dengan diri
sendiri maupun dengan pihak lain. Peristiwa semacam ini bisa dikatakan sesuatu
yang wajar terjadi, karena pada dasarnya semua hal pasti ada konfliknya. Bahkan
dalam sosiologi agama ada kelompok “konflik”, dimana mereka mempunyai spekulasi
bahwa dunia dapat berubah karena adanya konflik. Koflik sendiri dapat
diwujudkan dalam berbagai hal, mulai dari bentuk protes secara lisan maupun
bentuk protes melalui tindakan. Berbagai hal dapat dilakukan untuk mewujudkan
konflik. Beberapa kasus terjadinya konflik adalah konflik antar budaya, konflik
antar umat beragama, konflik dengan diri sendiri. Fenomena yang sudah tidak
asing lagi bagi masyarakat modern. Bisa dikatakan juga bahwa konflik tidak
hanya terjadi pada masyarakat modern, karena pada dasarnya awal mula konflik
berawal dari masyarakat primitif yang
dengan cara mereka menolak atau
menyuarakan bentuk protes mereka pada masyarakat lain maupun dengan diri mereka
sendiri. Dalam masyarakat primitif konflik bisa bearwal dari kesalahpahaman
dalam memaknai suatu fenomena. Jika pendapat mereka tidak disetujui atau tidak
sependapat dengan masyarakat lain, maka disitu akan timbul yang namanya
konflik. Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat modern, dimana ketika
masyarakat tidak merasa setuju disitu akan mulai tercipta yang namanya konflik.
Perbedaan signifikan yang terjadi pada masayarakat primitif dengan modern
yaitu, pada cara mereka mengungkapkan bentuk konflik mereka. Ketika melihat
pada masyarakat primitif saat terjadi konflik, kebanyakan dari mereka lebih
mengandalkan peperangan atau baku hantam untuk menyelesaikan konflik yang ada.
Namun pada msayarakat modern akan lebih mengandalkan ungkapan secara lisan,
baik itu dalam media debat atau lainnya yang mana dengan media tersebut dapat
menyelesaikan konflik. Pada diri sendiri konflik terjadi karena adanya
gejolakan yang terjadi pada hati, ini menimbulkan rasa keresahan, kegelisahan
yanga akan berdampak pada kejiwaan
manusia itu sendiri.
Menurut Durkheim, agama hanya bisa dipahami
dengan melihat peran sosial dalam menyatukan komunitas masyarakat. Dengan kata
lain agama seharusnya menjadi perekat atau pemersatu dalam masyarakat, meski
disisi lain agama juga menimbulkan
perpecahan diantara masyarakat itu sendiri. Peran agama bisa dikatakan sebagai
perekat sosial yang seharusnya bisa
menjadi perekat diantara pecahan-pecahan agama itu di saat adanya sebuah ritual
keagamaan. Namun dalam kenyataan dewasa ini, masyarakat modern khususnya lebih
mementingkan individualisme yang mereka junjung tinggi. Masyarakat hanya
sebatas “yakin” dengan ”kebenaran” agama yang mereka anut. Dengan kuasa
tersebut manusia merasa bahwa dirinya telah mengerti dan paham mengenai konsep
keagamaan yang ada. Dampak signifikan dari fenomena ini adalah terjadinya
kesalahpahaman masyarakat dengan konsep keagamaan yang ada. Adanya agama
seharusnya menjadi kontrol sosial dimasyarakat, bagaimana agama tersebut
menjadi sebuah keyakina dan juga pedoman bagi masyarakat selain itu agama
menjadi sebuah kontrol dalam masyarakat. Pengontrolan ini bisa berupa
pengontrolan dalam bentuk pegontrolan cara agama terhadap diri manusia. Namun
pada sosiologi agama, kontrol sosial ini terfokus pada pengontrolan ekonomi
dalam masyarakat. Pendapat ini di kuatkan oleh pemaparan dalam karya-karyanya,
bahwa cara menhadapi hubungan antara agama, tubuh dan ekonomi ini sangat
selektif. Dalam memahami fungsi sosial agama bagi masyarakat, para sosiolog
agama menempatkan agama sebagai perekat sosial yang merekat potensi-potensi
antagonistik antar individu atau sebagai candu sosial yang menekan pada konflik
kepentingan antar kelompok-kelompok yang cenderung antagonistik. Dalam dua gaya
penjelasan ini fungsi dari agama bisa dikatakan mempertahankan kohesi sosial
(Wilson, 1982).
Dalam studi kasus yang diangkat dalam
tema ini adalah apakah peran agama saat
terjadinya konflik dimasyarakat, apakah agama sebagai pemicu konflik ?
Ataukah agama sebagai penyelesai dalam konflik ? adanya beberapa spekulasi
yang berkembang dimasyarakat bahwa banyak yang mempertanyakan peran dan fungsi
agama terhadap konflik yang berkembang dimasyarakat itu sendiri. Dipicu oleh
beberapa fenomena yang mengatas namakan agama sebagai tameng dalam berbagai hal
khusunya agama dijadikan dalih dalam menginvasi wilayah maupun agama lain.
Tindakan semacam ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa agama dijadikan sebagai
pemicu dalam konflik. Agama akan dianggap sebagai sebuah ancaman bagi agama lain
yang merasa ditindas. Dengan fenomena seperti ini akan mengundang persepsi yang
buruk terhadap sebuah agama. Ini justru akan berdampak buruk pada agama itu
sendiri karena peran agama sudah dikesampingkan yang awalnya agama sebagai
kontrol sosial, perekat sosial, pedoman kini sudah beralih haluan menjadi
sebuah alat untuk meruntuhkan agama lain. Sebagai hal yang sudah sangat melekat
erat pada masayarakat, agama menjadi bagian dari diri manusia itu sendiri. Jadi
peran agama sendiri dalam kehidupan masyarakat sebenarnya sangat penting, karena itu ketika ada
pembahasan mengnai agama atau bahkan konsep keagamaan ini akan sangat bersifat
sensitif. Jika pembahasan agama itu dianggap sebagai sebuah celaan atau hinaan
terhadap agama tersebut, maka disitu akan menimbulkan konflik. Pada
kenyataannya konflikbukan dipicu dari konsep keagamaa,tapi konflik terjadi
karena manusia itu sendiri. Alasan yang kerap terjadi adalah, semua bentuk
seperti itu adalah perintah Tuhan dan itu ditunjukknan sebagai bentuk jihad.
Jika manusia itu sendiri yang sengaja menyalahgunakan wewenangnya,muncul
pertanyaan kenapa “agama” yang dijadikan alat ? Bukankah agama
mengajarkan manusia pada perdaiman, kesejahteraan, ?. Spekulasi mulai
berkembang dengan mengangkat masalah peran agama dalam pemicu konflik. Pelaku
dalam kegiatan seperti ini tidak hanya
berasal dari masyarakat dengan keilmuan agama yang biasa namun pelaku
dengan keilmuan yang tinggi juga melakukan kegiatan yang justru membuat image
buruk pada sebuah agama. Beberapa faktor dapat menjadi pemicu terjadinya
masalah seperti ini,mulai dari kesalahpahaman memaknai suatu agama, atau memang
dengan sengaja semua itu dilakukan demi tujuan politik semata. Yang jelas
dampak yang ditimbulkan dari masalah initidaklah kecil, justru masaalah seperti
ini akan menimbulkan masalah yang baru dimana itu tidak akan adaujung
penyelesaian selama salah satu pihak telah jatuh.
Disisi lain agama juga dapat menjadi
penyelesai dari berbagai konflik yang ada dimasyarakat jika menyangkutkan pada
aspek agama itu sendiri, bahwa agama didunia ini tidak ada yang mengajarkan
permusuhan, peperangan, maupun tindakan lain yang mengancam agama lain. Dalam
kaidah agama mengajarkan pada manusia bahwa dalam kehidupan apapun, harus mampu
bersatu dan berdamai dengan sesama manusia
juga pada makhluk hidup lain. Agama Islam sendiri yang semua kegiatannya
dilakukan atas dasar al-Quran dan Hadist tidak pernah ada seruan untuk memusuhi
agama lain. Justru dalam teks-teks yang ada, diajarkan sikap tolransi,
menghormati sesama orang beragama. Beberapa kasus misal, agama dijadikan
penyelesai atau titik temu dari pada konflik, dalam kehidupan masyarakat muslim
dahulu jika ada masalah apapun akan dikembalikan ke kaidah agama itu sendiri.
Mereka menjunjung tinggi kaidah agama sehingga agama menjadi penting dan patut
untuk di jaga, karena agama sebagai penyelesai dalam berbagai konflik yang ada.
Hal tersebut terus berkembang sampai zaman para dinasti, ketika agama Islam
terus berkembang dalam berbagai bidang keilmuan. Sebenarnya masyarakat muslim
sendiri sudah mengibarkan sayapnya diberbagai belahan didunia. Namun mereka
harus kalah saing dengan masyarakat non-muslim dalam hal bidang keilmuan yang
lain. Dalam masa kontemporer ini, masih ada beberapa pihak yang menggunakan
agama sebagai media dalam menyelesaikan masalah atau konflik, namun dengan cara
yang malah menyebabkan pemicu konflik. Jika di telaah lebih lanjut,mereka
berasumsi bahwa itu semua adalah titah Tuhan yang telah diwariskan pada mereka
sejak zaman nenek moyang. Masalah tentang agama kini kian krusial, jika terjadi
suatu konflik khususnya yang menyangkut agama, pasti akan menimbulkan masalah
lain yang akan jauh lebih besar lagi. Banyak dari masyarakat modern khususnya
menganggap bahwa agama hanya sebagai doktrin belaka, dengan mendogma suatu agama maka ia dapat dengan leluasanya
memainkan peran dalam agama itu. Jika dapat dikaji lebih lanjut lagi akar dari
konflik antar manusia khusunya antar umat beragama, berawal dari manusia yang mengdoktrin dirinya
sendiri, bahwa ia telah mendapatkan
hikmah dari Tuhan agar ia membenarkan golongan atau bahkan agama yang dia
anggap telah melenceng dari jalan Tuhan. Selain itu kesalahpahaman mengenai
para teolog dan filsof yang dianggap
telah menjadi kafir karena sesuatuyang dia pelajari dianggap telah melenceng atau bahkan yang
diapelajari itu tidak pernah ada didalam ajaran agama manapun. Inilah yang
menyebabkan berbagai konflik khusunya konflik keagamaan dan ini bukan sesuatu
yang asingatautabu lagi, malah sudah menjadi konsumsi bahkan kegiatan di
masyarakat. []

0 komentar :
Posting Komentar