Kamis, 01 September 2016

Catatan Pertama


Liburan sudah terlewat, tak terasa bangku kuliah mulai ku rasakan. Huufft, . . . . diawal sudah kuraasakan ini bakal menjadi semester terpanjang dalam sejarah perkuliahan ku. Sekarang sudah kualami, hari2 yang berat, tumpukan tugas, dosen super K. Sampai teman2 yang b*ngsat pun sudah aku cicipi. Memang hidup itu keras, pedas, jika tak dilewati maka tak akan mampu aku untuk dewasa.
Pedih sih, ini memang perih, tapi inilah kehidupanku, ini hanya coretan hitam diatas putih. Hanya kata2 tak bermakna yang ku tulis untuk meringankan beban hidup ku.
-Ga-

Jumat, 15 Juli 2016

Rindu


Guntur menggelegar bak meriam perang berhamburan,
Kilat menyambar cahaya terang silaukan mata,
Hati kesah menanti adinda nan jauh sana,
Tapi cinta daku yang takkan padan oleh hujan yang mendera,
Badai topan pun takkan mampu menghalau rasa rindu daku pada adinda,
Daku berharap pada hujan di malam ini yang deras,
Semoga cinta adinda takkan luntur di makan masa,    
-Ga-

Harapan yang sirna


Jalan yang dulu tertata rapi,
Kini sudah tak ada wajah asli,
Sekian lama daku pergi merantau,
Demi adindaku yang slalu menunggu,
Tapi, . . .
Semua terasa pedih,
Pahit mataku tak sesakit hati ini,
Adinda kini tlah dipinang laki-laki lain,
Daku dengar dia anak saudagar dan priyai,
Tega, . . .
Bagai raga yang tertembak beribu peluru,
Tubuh daku dingin dan kaku,
Mendengar berita yang mengejutkan itu,
Apa salah daku pada engkau adindaku ?
Tega sekali engkau menghianati daku yang tulus,
Tak kira berapa tetes air mata yang jatuh mengalir,
Hanya sendu dalam tangis,
Terasa hati yang teriris,
-Ga-

Sabtu, 11 Juni 2016

Kegalauan


Malam yang terasa dingin,
Membekukan tubuh yang tlah rapuh ini
Dibawah langit menangis aku tertunduk
Meratapi takdir yang tlah terjadi
Ingin ku teriak dan ku tangis sekuat hati
Tapi apa daya, tubuhku tlah lemas, tak dapat aku berbuat apa2
Hanya tesipu aku dipinggir jalan
Mengisak tiada henti bersama langit
Seakan mengerti akan sakit hatiku
Langit semakin deras menangis