Selasa, 08 November 2016

Ocehan Tentang Bibit


Ketika kita mempunyai sebuah bibit kecil, apakah kita akan bingung, bibit itu akan kita apakan?? apa akan kita tanam ?? atau kita biarkan ??
pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan, dan pada suatu ketika kita memilih jawaban atas pertanyaan kita. namun setelah kita lakukan hal tersebut terjadi keraguan atas pilihan kita. seharusnya ini tidak begini ??? keluh kita. lalu kita mencoba hal yang satunya, namun hasilnya tetap sama. apa yang salah ?? aku pilih itu tapi salah, aku pilih yang ini tapi salah, sungguh tidak adilnya hidup ini ??? keluh kita lagi. 
alangkah lebih baik, jika sebuah bibit yang baik ditanam dalam wadah yang baik, dan jangan biarkan bibit buruk masuk dalam wadah tersebut. namun jangan biarkan pula bibit buruk itu ditanam dalam wadah yang buruk. 
jikapun tidak ingin menanam bibit baik tersebut alangkah lebih baik jika tidak menghilangkan bibit tersebut. biarkan mereka tumbuh sesuka hati mereka, toh kita juga yang akan memanennya.

ini hanyalah sebuah ocehan belaka, kata2 tak bermakna namun syarat dengan filosofi. lebih baik tebarkan bibit kebaikan dalam wadah yag buruk dari pada menebarkan bibit buruk pada wadah yang baik.

SECARIK CATATAN SEJARAH




Seperti pohon yang besar, yang memiliki akar, batang, dahan, ranting, dan daun, seperti halnya sejarah. Sejarah tidak datang secara tiba-tiba. Sejarah datang melalui sebuah proses. dalam sebuah sejarah akan ada beberapa tokohyang hilang dalam pusaran sejarah, hal itu terjadi karena mereka tidak terseleksi dalam proses tersebut. Hukum sejarah mengatakan bahwa "apa yang terjadi dimasa depan ada hasil pertanggungjawaban dari yang kita lakukan saat ini". sebuah sejarah selalu bersifat sbjectif karena hasil dari interpretasi dari sejarawan.Untuk mengenang sejarah yang kita buat harus ada sumber yang valid. Tuylisan adalah salah satu sumber sejarah yang valid. Hukum sejarah berkata "ingatan sering lupa tapi tulisan mengingatkan". Tulisan semua pengalaman yang terjadi dalam hidup, baik/buruk/senang/menderita. meskipun itu hal yang paling mengecewakan atau memalukan,jika itu bagian dari hidup kita maka wajib untuk ditulis. Karena ketika hal biasa ditulis maka itu akn menjadi hal yang luar biara di kemudian hari. Dari tulisan inilah kita akan menjadi beda dengan orang lain. Seperti orang sedang naik kereta api dengan melihat kebelakang. ia dapat melihat ke kanan dan ke kiri. Yang tidak dapat ia kerjakan adalah melihat ke arah depan. (kuntowijoyo)

Sabtu, 05 November 2016

Sinopsis


Bambu Kemerdekaan
Desingan peluru tak henti meletup setiap harinya. Darah yang terus mengucur deras membasahi tubuh yang sudah lemah. Dengan wajah geram Paijo menegakkan pistol dari hasil rampasan orang Belanda itu. Dengan hati-hati ia menarik pelatuknya dan seketika rombongan Belanda yang mau berkunjung ke wilayah lain kocar kacir, karena pimpinan mereka tertembak dan sekarat didepan mereka.  Wajah paijo seketika berhenti pucat kala melihat seorang perempuan keturunan Belanda turun dari kereta dan merangkul pria yang hampir terbujur kaku. Perjuangan kemerdekaan paijo di pertaruhkan dengan perjuangan cintanya dengan perempuan itu. Akankah paijo akan melanjutkan misinya mencari pembunuh dari ayahnya ? Atau ia lebih memilih perempuan Belanda dari melanjutkan misinya itu ?

Kamis, 03 November 2016

Metode Dakwah : AL-Mujadallah


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dakwah merupakan bagian ritual dalam suatu agama. Meski dalam realitanya tidak menjadi ritual wajib bagi semua umat pada umumnya, karena hanya dilakukan oleh orang-orang dengan keilmuan yang lebih mengenai agama. Tapi pada konsep dasar dakwah semua umat diperintahkan untuk melakukan kegiatan dakwah ini. Karena sesuai dengan asal katanya, da'a yadi'u, da'watan, yang berarti menyeru atau mengajak dalam kebaikan. Setiap orang berhak mengajak orang lain berbuat baik apalagi masuk kedalam konteks agama. Disini kata dakwah disebutkan beberapa kali dalam kitab suci al-Qur'an. Tujuan dari semua itu bahwa Tuhan memerintahkan manusia agar senantiasa mengajak orang lain agar mau menjalankan semua perintah Tuhan dan berusaha menjauhi segala larangan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan alasan itu maka, dakwah dianggap wajib bagi orang atau umat beragama khususnya Islam.
Dalam melakukan kegiatan berdakwah seseorang sepatutnya mempunyai cara atau metode yang benar. Karena jika dilakukan dengan cara yang asal-asalan, ilmu yang akan ditransferkan dalam dakwah malah akan menjadi sia-sia karena tidak adanya respon dari pihak kedua (orang yang diajak berdakwah). Efesiensi dan efektifitas dalam penyampaian dakwah menjadi salah satu cara dalam berdakwah. Cara dalam berdakwah ini dillatarbelakngi oleh si pendakwah, apakah pendakwah memberikan dakwah yang panjang lebar atau dicampurkan dengan praktik yang dilakukan secara langsung.
Praktik dakwah lebih identik dengan pembicaraan yang dilakukan seorang pendakwah kepada audience dalam suatu forum yang berlangsung dengan durasi waktu yang telah ditentukan. Namun pada hakikatnya dakwah merupakan penyampaian materi yang tak ditentukan, baik waktu maupun tempat. Dengan kata lain penyampaian dakwah tidak mengenal yang namanya pemabatasan waktu karena bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan juga dapat dilakukan pada semua tempat, karena pada zaman Rasulullah dakwah selain dilakukan di dalam sebuah majlis juga dilakukan diluar majlis. Dalam penyampaian dakwah yang dilakukan seorang da'i harus dengan cara atau metode yang mudah dimengerti oleh mad'u. Karenanya seorang da'i harus mengetahui bagaimana tingkat sosial disebuah wilayah.
Meski dakwah identik dengan sebuah seruan dalam majlis, namun perspektif dakwah tidak hanya terpaku pada hal tersebut. Karena pada realitanya dakwah dilakukan dengan berbagai cara, namun tetap mempunyai satu tujuan yakni mengajak dalam kebaikan menuju jalan Tuhan. Dengan kata lain ada cara lain dalam penyampaian dakwah namun tetap berpegang pada kaidah yang ada. Adapun beberapa cara dalam berdakwah yaitu dakwah bil Qalam, yaitu penyampaian dakwah dengan menggunakan metode tulisan. Dimana seseorang melakukan dakwah dengan membuat tulisan, baik berupa artikel maupun tulisan-tulisan yang mengangkut konten-konten sesuai kaidah agama. Selain itu ada pula cara dalam berdakwah yakni dakwah bil Hal.1 Kegiatan dakwah ini dilakukan dengan langsung menunjukkan atau mempraktekkan apa yang harus dilakukan seseorang unutk menghadap Tuhan. Dakwah jenis ini sudah dicontohkan ketika pada zaman Nabi masih ada. Beliau dengan rendah hati memberikan contoh kepada umatnya bagaimana caara berwudhu sesuai dengan syariat dan juga tata cara shalat. Selain itu beliau juga mencontohkan berbagai hal lain, selain beliau mengutarakan dalam majelis. Ada banyak metode dalam berdakwah oleh sebab itu tidak ada keraguan bagi seorang da'i untuk menyebarkan ajaran agaa yang sudah diimaninya itu. Berbagai cara mulai dari tulisan, ucapan atau bahkan tindakan. Dengan berbagai cara itulah patutnya seorang da'i mengeuhkan keyakinannya untuk berdakwah.
Namun perlu diingat meski ada banyak cara, akan ada banyak pula tantangan dan rintangan dalam dakwah seorang da'i. Mulai dari sikap fanatisme terhadap ajaran yang ia anut hingga terlalu konservatifnya mad'u sehingga sulit untuk memberikan doktrin keagamaan. Adakalanya seorang da'i harus berdialog dengan mad'unya atau bahkan sampai terjadi suatu perdebatan sengit antara da'i dan mad'u. Sikap seperti ini harus dihadapi da'i dengan bijaksana tanpa ada emosi amarah dalam menjalankan dakwah. Dakwah dengan dialog atau berdebat juga dapat dikategorikan sebagai salah satu metode dakwah dalam dakwah bi Lisan. Praktiknya dalam berdakwah, seorang da''i bukan mencari musuh untuk diajak berdebat, tapi lebih bagaimana dia bisa meyaknkan seorang mad'u yang terlalu fanatik terhadap ajarannya, sehingga dia bisa meyakini bahwa hanya Allah Tuhan bagi seluruh alam.
Penguatan argumen ini harus mempunyai landasan yang kuat sehingga lawan akan yakin dengan argumen  yang dilontarkan. Tendensi kuat itu selain berpegang teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah juga harus sesuai dengan logika dan keadaan yang ada. Meski dapat diakui tidak semua peristiwa dapat dijelaskan dengan akal pikiran karena beberapa hal berbentuk metafisik. Dengan begitu seorang da'i harus pandai memutar otak agar argumennya diterima dan diyakini oleh pihak lawan.  Oleh karenanya dalam metode ini diperlukan da'i yang cerdas baik dari segi intelektualitasnya , kebijaksanaanya maupun aspek yang lain. Ini diharapkan agar pihak lawan bisa yakin dan menerima argumen yang diberikan. Jika kegiatan dakwah jenis ini dilakukan oleh sembarang orang dampak yang paling jelas terlihat adalah adanya ketidak percayaan seseorang yang akan mengakibatkan pandangan kebodohan terhadap agama Islam.
Dalam dunia yang kian maju ini. Agama sudah sangat dipertanyakan mulai dari keabsahannya sampai kegunaanya dalam kehidupan manusia. Karena agama sudah tidak lagi sesuai dengan apa yng diajarkannya. Banyak diantara umat beragama yang justru memutarbalikkan fakta dan menjadikan agama sebagai alat penghancur. Oleh sebab itu dizaman yang modern ini diperlukan kader-kader intelektual untuk menjadi seorang da'i. Karena pada zaman ini, bukan hanya tulisan-tulisan yang bernuansa islami saja yang dibutuhkan, bukan pula contoh perbuatan yang dipertunjukkan karena mungkin itu hanya bentuk kemunafikan manusia. Tapi yang dibutuhkan pada zaman ini adalah kader yang mampu menguatkan argumennya dalam berdakwah sehingga banyak dari oarang-orang yang semula ragu menjadi yakin, orang yang semula tidak mengerti menjadi mengerti dan orang yang mencemooh menjadi lebih baik bahkan dapat merubah sifatnya itu. Dengan begitu dapat dikatakan dakwah yang dilakukan adalah sebagai dakwah yang berhasil. Praktik dalam melakukan dakwah sekarang ini sangatlah mudah. Dengan mengikuti trend yang ada dakwah bisa diselipkan diantaranya. Selain itu penggunaan teknologi juga dapat membantu dalam perkembangan teknologi. Tapi tetap ditekankan pada kader yang berintelektual, karena bukan tidak mungkin hujan cemooh dan hujatan akan menjadi musuh dalam perang.
Metode al-mujadalah sekarang ini menjadi suatu trend di kalangan pendakwah muslim Timur Tengah. Karena musuh besar mereka adalah orang-orang yang meragukan akan agama Islam. Selain itu para pemuka agama non-Islam pun kini sudah berani mencuat dan melempar bumerang atas kekacauan yang dibuat oleh segelintir orang yang mengaku beragama Islam. Keadaan memicu dialog bahkan perdebatan anatara pendakwah muslim dengan pemuka agama non-Islam. Meski kegiatan ini sudah berlangsung sekian lama, dan telah tertulis dalam al-Qur'an bahwa salah satu metode dakwah yng digunakan adalah dengan berdialog atau berdebat. Oleh sebab itu seorang da'i harus mempunyai kepiawaian karena dia juga akan menemukan realitas keagaamaan yang berbeda.2

B. Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan metode dakwah Al-Mujadalah ?
B. Bagaimana pembagian metode Al-Mujadalah ?
C. Apa saja bentuk-bentuk As-Illah wa Ajwibah ?
D. Bagaimana realisasi As-Illah wa Ajwibah ?

C. Tujuan Masalah
A. Untuk mengetahui metode dakwah Al-Mujadalah.
B. Untuk mengetahui pembagian metode Al-Mujadalah.
C. Untuk mengetahui bentuk-bentuk As-Illah wa Ajwibah.
D. Untuk mengetahui realisasi As-Illah wa Ajwibah.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode dakwah Al-Mujadalah

Agama merupakan datu hal utama dalam kehidupan. Dalam agama juga diperlukan penyebaran aidah agama. Istilah tersebut biasa disebut dengan dakwah. Penyebaran kaidah agama merupakan sesuatu hal yang diperintahkan Tuhan kepada manusia. Dalam penyebaran kaidah agama diperlukan subjek (pelaku penyebar agama atau penyampai kaidah) dan juga objek (orang yang ajak atau sebagai sasaran dari materi yang disampaikan). Dalam penyampaiannya pun tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Perlu adanya penjelasan agar isi yang disampaikan benar-benar tersampaikan dan tidak ada kesalahpahaman dalam pengertian. Metode yang digunakanpun juga hrus bisa membawa objek dakwah agar ikut dan tertarik untuk masuk kedalam dakwah. Ada berbagai metode dakwah yang ada dan beberapa metode menggunakan objek dakwah debagai bahan dalam melakukan dakwah. Dengan keterlibatan objek dakwah diharapkan agar apa yang di rasakan objek dapat menjadi pemukul kembali sehingga yang semula ia dalam kondisi gelap mulai berangsur-angsur menjadi terang. Dalam malkukan suatu dakwah harus mempunyai cara, teknik dan taktik, agar dakwah yng disampaikan bisa diterima olehobjek dakwah yng biasa disebutu dengan mad'u.
Dakwah dalam beberapa kesempatan memang identik dengan ceramah yang dilakukan seorang da'i dalam menyampaikan materinya. Dalam kegiatan itupun muncul timbal balik antara da'i adan juga para jemaahnya. Timbal balik ini berupa kegiatan tanya jawab yang terjadi secara sengaja karena da'i mempersilahkan bagi jemaah yang ingin mengeluarkan keluh kesahnya dalam urusan keagamaan. Dengan adanya timbal balik itu diharapkan terjalin ikatan yang kuat antar da'i dan juga jamaah agar materi yang disampaikan benar-benar diserap dan dimengerti bahkan dijalankan oleh jemaahnya. Dari kegiatan itu bisa diperoleh tingkat keagamaan jemaah sehingga lain waktu dapat dengan mudah untuk berdakwah dalam wilayah yang serupa. Berbagai sesi dalam metode dakwah justru menampakan kedekatan antara da'i dan juga para mad'unya. Hal ini sesuatu yang baik, bagi da'i maupun mad'u. Selain muncul timbal balik atau komunikasi dua arah juga dalam beberapa sesi dakwah hanya terjadi komunikasi satu arah ketika da'i sedang menjelaskan materi atau seorang da'i tidak memberikan kesempatan bagi mad'u untuk mengemukakan apa keluh kesahnya.
Metode lain yang digunakan dalam berdakwah yaitu dialog/debat (Al-Mujadalah). Perbedabatan atau dialog yang dilakkan ditujukan untuk menerangi kubu lain dengan beradu pengetahuan. Ibarat tali yang digunakan untuk mengikat begitu pula metode Al-Mujadalah ini. Al-Mujadalah sendiri dinisbatkan pada kata jadala yang berarti melilit atau memintal. Jika diwazankan Faa'ala dapat berarti Jaadala yang mempunyai makna berdebat.3 Penggunaan metode ini untuk mengikat kubu lain dengan argumen yang diutarakan agar mereka percaya dan membenarkan argumen yang telah disampaikan. Selain itu penggunaan metode ini akan menjadi bumerang bagi mad'u yang terlalu fanatik terhadap ajaran yang dianutnya. Penggunaan metode ini bisa dikategorikan dalam metode yang efektif dalam berdakwah, karena akan tercipta komunikasi dua arah, sehingga muncul timbal balik dan terjalinnya ikatan emosi antara da'i dan mad'u. Namun begitu jika lawan terlalu fanatik, bukan tidak mungkin akan terjadi suatu tindak anarkisme yang berujung pada kontak fisik. Jelas terlihat disini bahwa penggunaan metode Al-Mujadalah ini mempunyai berbagai dampak, yang dapat mengancam seorang da'i.
Dakwah metode Al-Mujadalah sanagt cocok jika digunakan dizaman sekarang. Banyak orang yang mulai meragukan akan kaidah-kaidah agama khususnya Islam. Oleh sebab itu diperlukan cara unutk menunjukkan kebenaran tersebut. Beberapa orang pada sekarang ini, mulai sulit diajak berdakwah karena ada rasa ketidakpercayaan mereka terhadap apa yang disampaikan oleh seorang da'i. Oleh karenanya metode dialog atau debat juga tanya jawab, menjadi alternatif seorang da'i untuk mengetahui keluhkesah dari mad'u. Memang ini bukan ranah Psikologi, namun sepatutnya da'i mnegetahui akan hal tersebut. Dengan begitu dakwah yang disampaikan dimungkinkan akan diterima.

B.  Pembagian metode Al-Mujadalah

Adapun metode ini dalam bahasa al-Qur'an dikatakan beberapa kali dalam beberapa arti yang berbeda. Tapi yang jelas ada dua pembagian besar dari metode ini yaitu ­Al-Hiwar dan As-Illah wa Ajwibah. Dari kedua terminologi tersebut mempunyai artian yang berbeda dan cara yang berdeba pula, namun tetap dalam satu tujuan yaitu berdakwah dengan metode Al-Mujadalah. Dakwah jenis ini mempunyai tingkat kerentanan yang cukup tinggi, melihat metode yang dipakai adalah berdebat atau berdialog. Dialog merupakan suatu hal yang biasa dilakukan manusia, maulai dari kalang elet sampai bawahannya. Dalam bahsa dialog ini harus mengarah pada persatuan dan pemaparan situasi perpecahan dan pertentangan.4 Jika fanatisme seseorang terpancing maka sikap anarkis yang akan bertindak. Begitu pula jika seorang da'i dengan sengaja maupun tidak memancing fanatisme lawan tidak dipungkiri bahwa sikap anarkis dalam diri orang itu akan muncul dan yang terjadi adalah kontak fisik antara da'i dan juga mad'u. Secara garis besar ada dua pembagian dalam metode Al-Mujadalah ini. Adapun penjelasan dari kedua pembagian tersebut adalah :
1.    Al-Hiwar (berdebat)
Metode berdebat pada dasarnya sudah diperintahkan dalam al-qur'an. Karena melihat beberapa orang yang terlalu fanatik memerlukan bukti atau penguat terhadap arguneb yang diberikan. Secara terminologi dakwah Al-Hiwar merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh kedua belah pihak secara sinergis, tanpa ada permusuha diantara keduanya.5 Jadi penggunaan media ini dilakukan dengan dua atau lebih orang dengan tujuan untuk meluruskan sesuatu yang menyimpang dengan jalan bertukar pikiran dan juga menguatkan argumen masing-masing. Dengan menggunakan metode ini diharapkan akan menemukan sebuah tujuan ang sama yaitu menuju jalan Tuhan. Perlu diingat bahwa bahwa dalam melakukan debat atau dialog harus mempunyai berbagai landasan, diantaranya :
    a. Kejujuran. Merupakan sesuatu yang haraus dilakukan dengan mengemukakan agumen sesuai dengan kebenaran yang ada. Penyampaian berdasarkan kejujuran akan menjadi bekal yang kuat dalam penyampaian argumen di sesi berikutnya. Selain itu dengan kejujuran itu sebagai seorang pendakwah bisa dipercaya ketika memberikan sebuah argumentasi.
    b. Argumen yang objektif. Setiap agumen yang diberikan tidak melenceng dari tema pembahasan, jadi dapat di mengerti maksud dari argumen tesebut. Penggunaan argumen yng objektif juga dimungkinkan tidak adanya keberpihakan antara pendakwah dengan pihak lain.
    c. Logis. Penggunaan argumen yang logis merupakan sesuatu yang wajib dilakukan dalam melakukan dialog atau perdebatan. Karena argumen yang logis merupakan argumen yang kuat dan dapat dipercaya.
    d. Bertujan untuk mencapai sebuah kebenaran bukan jalan menuju jurang kesesatan.
    e. Dalam dialog diperlukan sikap menerima pendaat orang lain. Selain itu dalam situasi ini tidak dianjurkan untuk merasa argumen yang di kemukakan merupakan argumen yang paling benar dan menyalahkan orang lain.
    f. Dalam debat juga harus ingat bahwa itu adalah suatu forum yang didalamnya terdapat orang lain. Jadi perlu adanya sikap toleransi dan menerima pendapat oarng lain.

2.    As-Illah wa Ajwibah (tanya jawab)
Sesuatu yang lazim terjadi dalam sebuah dialog atau perdebatan muncul yang namanya tanya jawab. Kegiatan ini wajar karena dimungkinkan hal ini menjadi salah satu dalam menguatkan argumen yang telah dikeluarkan tadi. Dengan adanya tanya jawab pula kegiatan dakwah dikatakan berhasil, sebab terciptanya komunikasi dua arah. Selain Al-Hiwar metode dialog yng satu ini juga dinisbatkan pada ayat al­-Qurn'an surat an-Nahl: 125. Karena perintah Allah terakhir dalam ayat tersebut adalah untuk membantah dengan cara yang baik.6 Pembantahan ini dilakukan dengan cara yng sesuai dengan konsep keagamaan. Karena jika tidak menggunakan cara yang baik, disamping menyakiti hati orang lain juga akan mnyulut api perselisihan. Karena dalam konsep berdakwah yang paling diutamakan untuk diperoleh adalah hikmah.7
Metode ini jika dijelaskan secara terminologi adalah penggabungan dari dua kata yang dijamakkan. Maksudnya ada dua kata yaitu, As-Illah dan Ajwibah. As-Illah sendiri merupakan bentuk jamak dari pertanyaan, begitupun Ajwibah yang merupakan bentuk jamak dari jawaban. Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa, metode Al-Mujadalah As-Illah wa Ajwibbah merupakan metode dakwah dengan berdialog atau perdebatan dengan melontarkan pertanyaan dan jawaban yng diajdikan sebuah argumen dan penguat argumen. Dengan artian seperti itu dapat diketahui adalah pertanyaan dan jawaban menjadi sebuah hal penting karena dengan itu argumen dapat dipatahkan, sibantah atau malah diterima.

C. Bentuk-bentuk As-Illah wa Ajwibah

Tanya jawab merupakan hal yang biasa terjadi antara da'i dan juga madunya. Dalam metode ini ada berbagai bentuk yang mulai dari segi As-Illah (pertanyaan) maupun dari segi Ajwibah (jawaban). Karena yang jelas dalam dakwah metode ini ada yng mad'u hanya bertanya sekadarnya atau sampai dianggap menguji keilmuan dari seorang da'i. Adapun jika dilihat segi bentuk dari  ­As-Illah yaitu  :
    1. Pertanyaaan mad'u yang ditujukan untuk menguji seorang da'i. Banyak dari para mad'u ragu akan keilmuan yang dimiliki oleh seorang da'i, maka ia dengan sengaja mengajukan pertanyaan untuk menguji keilmuan da'i. Jika pertanyaan yang dilontarkan dapat dijawab dengan lancar makan akan terhapus pula keraguan yang ada, namun sebaliknya jika pertanyaan tidak bisa dijawab maka keraguan itu bisa menjadi ketidak percayaan mad'u kepada da'i. Tapi yang perlu daiingat dari bentuk ini, bisa saja dimungkinkan bentuk ini merujuk pada perdebatan yang terjadi antara da'i dann mad'u. Dan keadaan ini akan berakhir ketika salah satu pihak sudah merasa pendapatnya tidak bisa dikuatkan lagi.
    2. Pertanyaan mad'u yang memang tidak mengerti akan apa yang disampaikan oleh da'i. Ini sering terjadi bahkan dari zaman Rasulullah. Para sahabat sering kurang mengerti dan langsung melontarkan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
    3. Pertanyaan dari seorang mad'u untuk mempertegas atau memperteguh pendapatnya. Hal ini dilakukan mad'u untuk memperjelas apa yang dia terima sesuatu yang benar dan untuk memperkokoh pengetahuannya mengenai suatu materi.
    4. Pertanyaan dari mad'u yang hanya sekadar tanya karena merasa itu adalah kewajibannya untuk bertanya. Komunikasi dua arah terjadi ketika ada timbal balik antara da'i dan mad'u. Dan bagi yang mad'u mengangap itu sebuah kewajiban maka ia hanya sekadar tanya. Entah itu ditujakan untuk menguji da'i atau memnag dia tidak mengerti apa maksud dari materi yang disampaikan seorang da'i.
    5. Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Pertanyaan ini biasa ada di dalam al-Qur'an sebagai sebuah jawaban dari da'i atas pertanyaan seorang mad'u. Berbalik dengan bentuk yang lain, pertanyaan ini merupakan jawaban yang diberikan da'i. Dan da'i menggunakan rujuka dari al-Qur'ansegai sumber jawaban atas pertanyaan mad'u.
Selain dalam degi pertanyaan jawaban yang diberikan da'i juga ada pembagiannya. Karena itu juga menjadi sebagai salah satu metode dakwah. Bahkan Rasul pun telah mengajarkan itu dan bagi seorang da'i itu merupakan sebuah contoh baginya dalam berdakwah. Berikut adalah segi bentuk dari Ajwibah (jawaban) :
1.    Jawaban yang lugas. Seorang da'i harus menjawab sebuah pertanyaan dengan lantang dan lugas, dan tidak boleh seorang da'i menjawab dengan terbata-bata dan penuh keraguan. Sikap lugas ini dicontohkan Rasulullah saat menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh para sahabat.
2.    Jawaban dengan sisipan lelucn didalamnya. Tidak semua jawaban yang diberikan merupakan jawaban yang serius. Adapula beberapa waktu sisipan candaan menjadi isi dari jawaban atau materi dakwah. Selain biar tidak terkesan monoton, agar mad'u tidak tegang atau bahkan takut karena materi ataujawaban yang diberikan seorang da'i terlalu serius. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah. Beliau sering kali bercanda dengan para sahabatnya, namun beliau dapat dengan bijaksana menempatkan waktu, kapan harus serius dan kapan pula harus bercanda.
3.    Jawaban dalam bentuk pertanyaan yang tidak perlu dijawab dengan lisan, namun harus di renungkan. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan merupakan sebuah bentuk keraguan dari seorang mad'u. Maka disini dibutuhkan sebuah keyakinan dan penguat dalam jawaban. Sehingga sebuah jawaban menjadi sebuah peneguh dan penguat atas pertanyaan yang dilontarkan.
4.    Jawaban yang sama dengan pertanyaan, atau pertanyaan yang diulang sebagai jawaban. Dalam beberapa sesi, pertanyaan merupakan jawaban itu sendiri. Rasulullah pun pernah melakukan hal serupa
5.    Jawaban yang berbeda-beda dari pertanyaan yang sama. Bukan maksud tidak yakin atas jawaban yang diberikan, namun pertanyaan yang diberikan memiliki banyak jawaban yng berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang mana dilihatnya.
6.    Jawaban yang dikembalikan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Beberapa pertanyaan memang harus memerlukan bukti yang kuat sehingga jawaban harus logis dan merupakan sesuatu yang valid. Namun ada beberapa pula yang tidak bisa dijelaskan karena mungkin itu sesuatu metafisik atau memang belum diketahui oleh seoorang da'i. Maka semua itu harus dikembalikan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena kebenaran hanya ada pada-Nya.
7.    Jawaban tidak selamanya dijawab dengan lisan, namun dengan diam atau gesture tubuh. Selain menjawab dengan perkataan, jawaban bisa berupa gerakan tubuh, seperti mengangguk atau menggeleng. Dapat pua sebuah jawaban adalah perbuatan yang dilakukan agar sekali lagi keteguhan dan memperkuat keyakinan dari mad'u.
8.    Jawaban yang bertingkat. Biasanya untuk pertanyaan dari mad'u yang memberikan pertanyaan bertubi-tubi. Memang hampir sedikit sama dengan no. 5, namun biasanya jawaban dengan jenis ini ditujukan untuk pertanyaan yang bersangkutan dengan amal perbuatan manusia.

D. Realisasi As-Illah wa Ajwibah
Dalam metode dakwah As-Illah wa Ajwibha ini dapat dilakukan deberbagai media. Karenanya tidak hanya terkugnkung pada satu tempat dan dinnikmati satu kalangan tertentu, namun juga dapat dirasakan atau dinikmati oleh kalangan yang jauh sekalipun. Dengan kombinasi antara dakwah dengan teknollogi maka akan menimbulkan sesuatu yang baru, dimana dakwah tidak hanya dilakukan secara monoton dalam satu sesi. Namun dakwah dapat dinikmati kembali dengan mereview kembali materi yang disampaikan da'i melalui teknologi yng ada. Adapun beberapa cara dalam pengembangan dakwah khusunya As-Illah wa Ajwibah diantaranya adalah menggunakan media :
1.    Televisi. Media yang satu ini sangat digandrungi khususnya pada masyarakat modern sekarang. Karena model tayangan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Juga display yang nyata karena bentuk dari gabungan audio dan video. Dalam perkembangan dakwah dengan media ini dapat berupa acara yang dikemas melalui balutan islami dengan di isi oleh pendakwah dan juga jamaah.
2.    Radio. Media kedua ini sudah sedikit ditinggalkan. Karena keterbatasannya yng hanya bisa mengeluarkan audio sehingga jamaah tidak tau pasti apa yng dilakukan oleh da'i dalam acara tersebut. Tapi meski begitu masih banyak pula pendengar setia dalam media ini yang senantiasa menantikan acara dakwah dan mengikuti metode As-Illah wa Ajwibah dari da'i.
3.    Internet. Dizaman serba modern ini, penggunaan teknologi hampir diseluruh kegiatan. Yang paling di gunakan oleh masyarakat sekarang yaitu internet. Dengan kecepatan akses yang digunakan, memungkin orang berkomuniksi dengan mudahnya. Penggunaaan internet tidak di sia-siakan oleh para cyber-cyber mulim dalam melakukan dakwah. Banyak pula kegiatan dakwah yang dilakukan dengan media ini. Namun diantar banyak kelebihannya, ada pula ancaman yang harus diperhatikan. Karena tingkat akses yng begitu cepat, dan dimungkinkan digunakan oleh semua kalangan, jadi informasi atau materi dakwah yang diampaikan harus berupa data yng valid dan dapt dipercaya. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dari pengguna jaringan.
4.    Media cetak. Media ini juga sedikit peminatnya. Ini tidak lain dan tidak bukan karena minat baca manusia sekarang sudah menurun. Sehingga untuk dakwah menggunakan media cetak sedikit mengambil andil dalam perkembangan dakwah. Selain itu keterbatasan dalam hal tanya jawab juga kerap dirasakan oleh orang yang membaca media cetak itu.
Metode dakwah As-illah wa Ajwibah ini merupakan metode yang fleksibel. Karena selain dengan penyampaian bi Lisan, metode ini juga dapat disampaikan melalui bi Qalam, dalam bentuk media-media yang sudah ada. Dengan madia-media itu diharapkan seorang da'i menjadi lebih mudah dalam melakukan kegiatan berdakwah. Selain itu dengan penggunaan metode itu dimungkinkan oleh seorang da'i untuk menggunakan metode As-Illah wa Ajwibah ini. Karena selain dengan bertatap muka secara langsung, metoe dakwah ini bisa dilakukan dengan perantara atau media tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa, kemajuan teknologi harus berimbang dengan kemajuan berdakwah, karena teknologi dapat ikut serta dalam perkembangan dakwah.
Karena perkembangan teknologi seorang da'i dimudahkan dalam segala urusan berdakwah. Meski memiliki segudang keuntungan atau bisa dikatakan sangat membantu, namun kemajuan teknologi juga dapat menjadi penghancur jika tidak digunakan dengan bijak. Itu mengapa perkembangan teknologi enjadi sebuah tantangan tersendiri dalam proses berdakwah.8 Oleh sebab itu diperlukannya kader yang berintelektual unutk dapat menggunakan dengan bijak dan dapat mengkolaborasikan antara teknologi dan juga berdakwah.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dakwah merupakan hal penting bagi agama terutama agama Islam. Karena dengan kegiatan dakwah, agama (Islam) dapat berkembang dan membangun suatu peradaban di suatu daerah. Kegiatan dakwah pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun dakwah lebih identik dengan ceramah atau pemaparan materi dari seorang pendakwah atau biasa disebut da'i kepada para penonton atau disebut dengan mad'u. Pemaparan materi ini berhubungan dengan keadaan yang dialami dari seorang mad'u. Penggunaan metode dan juga media yang bijak menjadi salah satu faktor keberhasilan berdakwah.

B. Kritik dan Saran
Dakwah pada kenyataan menjadi ajang perdebatan jika dipertemukan dengan masyarakat yang fundamental atau berbeda agama. Bahkan dalam satu agama yang sama pun, kadangkala dakwah menjadi kontroversi. Metode dengan Al-Mujadalah ini memang sangat efektif digunakan dalam suatu forum. Namun kelemahan dari metode ini adalah jika da'i tidak dapat mempersiapkan kemungkinan terburuk. Bisa saja dalam metode ini mad'u yang tidak terima menjadi anarkis baik dari segi perkataan samapai perbuatan. Selain itu penggunaan media dalam penyampaian dakwah jenis ini juga harus dipertimbangkan oleh da'i. Karena jika salah memilih media atau kurang mahirnya da'i dalam sebuah media, dimungkinkan tidak tersampinya yang disampaikan oleh da'i.